Hasanah Safriyani, Psi / Materi siaran di Radio Anak Jogja
Beberapa orang tua mengeluhkan anaknya selalu membantah jika diajak bicara. Seiring dengan berkembangnya pola asuh yang semakin demokratis, kemampuan anak untuk berargumentasi pun semakin baik. Anak tidak hanya sekedar diam dan mengikuti apa saja yang diperintahkan orang tua, tapi juga bisa menjawab, menawar bahkan ikut mengatur. Lalu apakah kebiasaan anak mendebat itu bisa dianggap wajar, atau merupakan hal yang berlebihan?
Betulkan anak harus selalu menurut?
Anak bukan robot. Ini harus kita hayati lebih dulu sebelum mengulas tentang perilaku mendebat. Anak juga memiliki keinginan sendiri, punya sudut pandangnya sendiri, dan dia membutuhkan wadah untuk bisa mengutarakannya. Sayangnya, kemampuan anak dalam mengontrol emosi dan memilih kata belum begitu baik sehingga argumentasi yang dikeluarkan anak kadang dimunculkan dengan teriakan, atau kata yang kurang tepat sehingga di mata orang tua tampak sebagai perbuatan yang tidak sopan.
Apa yang terjadi saat anak berargumentasi?
Saat berargumentasi, anak sebetulnya sedang belajar menyatakan apa yang ia pikirkan dalam bentuk kalimat. Dengan begitu anak sedang mengembangkan kemampuan daya pikir, bahasa (memilih dan memformulasikan kata dalam bentuk kalimat) sekaligus mengolah emosinya. Maka perilaku mendebat bisa juga disebut dengan kemampuan argumentasi anak. Kemampuan berargumentasi memiliki peranan penting dalam menentukan posisi tawar seseorang dalam sebuah masalah.
Kenapa Mendebat?
* Mengemukakan perbedaan pendapat
* Ingin tahu tentang sesuatu
* Memancing respon orang dewasa
* Coba-coba
* Ingin mengungkapkan ide yang terlintas di benaknya
* Mendapatkan keinginannya
Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua
* tanggapi jika diperlukan saja
* bantu anak memilih kata
* control emosi
* gunakan metode kaset rusak. Fokus pada apa yang ingin kita sampaikan
* buat kesempatan
baca selengkapnya...
Senin, 15 Februari 2010
Maunya Berdebat Terus
Lindungi Anak dari Iklan TV
Ardhian Heveanthara / Dimuat di Buletin RC
"Acara TV sebenarnya hanyalah alat pengumpan agar pemirsa melihat tayangan iklan"
Benarkah begitu?
Mungkin kalimat di atas masih bisa dibantah dan diperdebatkan, tapi pada kenyataannya yang tidak dapat dibantah adalah bahwa stasiun TV saat ini lahir bukan sebagai corong penyebar informasi pembangunan dan kemerdekaan seperti misi awal kelahiran TVRI puluhan tahun silam. Stasiun TV sekarang adalah suatu industri, dan industri adalah bentuk alat ekonomi untuk meraih keuntungan, dan keuntungan terbesar stasiun TV adalah fee dari iklan, maka acara TV dibuat selalu mempertimbangkan potensi dan hitung-hitungan mengenai seberapa besar peluang para pengiklan akan tertarik menempatkan iklanya di staisun TV bersangkutan.
Orientasi utama acara TV bukanlah pemirsa tapi iklan komersil. Perhatikan saja materi iklan TV yang selalu melebih-lebihkan sesuatu, bombastis, hiperbolik, dibesar-besarkan dan dikemas sangat manis hingga jangankan anak-anak, orang dewasa pun menjadi mudah terhipnotis untuk membeli produknya. Sebagian amat besar dari iklan di TV sama sekali tidak mendidik dan tidak menunjukkan kenyataan.
Maka, mari lindungi anak-anak dari Iklan TV......
Mengapa anak-anak?
Anak-anak adalah kelompok tebesar dan paling potensial sebagai sasaran pemasaran. Anak-anak selalu melakukan sesuatu berdasarkan kesenangan, kenyamanan, dan TV selalu bisa menyediakannya. Tapi sayangnya anak-anak belum dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak nyata, dan lagi-lagi TV lah benda yang bisa menghadirkan sesuatu yang tidak nyata menjadi tampak nyata. Karena prinsip dasar itulah maka TV menjadi media paling efektif untuk menjual produk.
Lalu apa pengaruhnya terhadap anak?
Perilaku Konsumtif
Anak-anak bisa menanggap iklan sebagai kenyataan, ujung-ujungnya anak anak akan meminta dibelikan produk itu. agar dia bisa menjadi seperti apa yang ada dalam iklan, ambil contoh mengenai iklan obat yang sekali minum saja langsung sembuh, lalu ada anak yang hanya dengan makan biskuit saja bisa melompat tinggi, anak yang tertarik dan jika terus menerus dituruti bukannya puas tapi akan semakin penasaran, beli, beli dan beli, suatu pembelian yang mungkin sebenarnya tidak terlalu diperlukan.
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa ini sama sekali bukanlah masalah apakah kita memang memiliki kemampuan finansial yang bisa selalu menuruti keinginan anak dan bisa membeli apapun, tapi ini adalah masalah pembentukan karakter dan pola pikir anak.
Kesehatan
Anak selalu tertarik dengan makanan, sayangnya sebagian besar iklan di TV yang ditujukan untuk anak-anak adalah iklan makanan lebih spesifik lagi snack dan mie instan, dan makanan-makanan ringan seperti itu mengandung MSG, bahan pengawet dll yang membahayakan otak dan pembuluh darah anak yang masih lemah. Belum lagi resiko obesitas, terutama anak yang jarang bermain diluar dan hanya main game dan nonton TV.
Pola pikir
Iklan TV bisa mengacaukan pemahaman anak, apalagi jika orang tua kurang peka dan memahami apa yang sedang menjadi perhatian utama anak pada saat-saat tertentu dan pemahaman yang salah akan berpengaruh pada perilakunya, sikapnya dan daya juang serta kreativitas untuk mencapai sesuatu, untuk menyelesaikan masalah anak langsung tertuju pada produk. Banyak iklan yang menggambarkan prestasi dan kemenangan dapat dicapai hanya karena makan biskuit, mengenakan sepatu merek tertentu, dll, belum lagi iklan yang menggambarkan bahwa hanya dengan makan permen saja sama dengan minum segelas susu. Anak-anak akan menyimpulkan bahwa permen bisa menggantikan susu. Bahaya sekali.
Sikap dan perilaku
Ini sebenarnya akibat umum dari efek adiktif TV. Ketika anak-anak sedang menonton TV dan perhatiannya terfokus tajam ke layar TV, lalu kita panggil atau kita ajak ngobrol, coba perhatikan apakah pandangan matanya beralih ke arah kita atau tetap menatap TV, jika dia tidak menengok dan pandangan matanya tetap menatap ke arah TV berarti harus diwaspadai, karena akibat jangka panjangnya ketika remaja atau dewasa bisa menjadi kebiasaan buruk, tidak bisa menghargai orang lain dan menganggap dunia di luar dirinya adalah sesuatu yang tidak penting. Inilah efek buruk tidak langsung dari TV.
Orientasi sosial
Karakteristik anak anak adalah pembelajar, perekam dan pemotret apa yang dilihatnya, lalu memproses dalam otaknya sesuai pemahaman dan definisi mereka sendiri, proses ini berjalan terus dalam waktu lama, dan sedikit demi sedikit pemahaman inilah yang akan membentuk karakter dan kepribadian anak.
Pelan tapi pasti anak anak yang memproses informasi ini akan mendefinisikan atau mengartikan apa yang ditangkapnnya, hingga muncul pemahaman bahwa kebahagianaan dalam keluarga, keberhasilan, prestasi dan kemenangan serta harga diri selalu diukur dengan kepemilikan dan penggunaan suatu produk.
Lalu harus bagaimana?
Matikan suara
Matikan suara TV ketka muncul tayangan iklan. Mematikan suara dapat mengurangi daya tarik iklan TV. Banyak solusi yang diambil orang tua untuk mengendalikan kebiasaan nonton TV dengan mematikan TV, menyembunyikan remote, mematikan volume, hal ini memang berhasil tapi tanpa diselingi dengan penjelasan, pendekatan persuatif, dan diskusi kecil maka cara paksa seperti ini hanya akan efektif sementara waktu saja dan malah menimbuilkan penasaran yang lebih besar dalam diri anak
Ketrampilan menjadi konsumen yg cerdas
Ajak anak berdisukusi dan membahas masalah iklan yang mana yang baik dan mana yang bohong. Kaitkan ini dengan kenyataan sehari-hari yang pernah ditemui anak, dan ini jangan hanya dilakukan sesekali saja, tetapi harus dilakukan secara konsisten setiap saat, dan usahakan seluruh anggota keluarga harus ikut pula mengajak anak berdiskusi mengenai acara TV dan iklan TV.
Menabung
Kita bisa memanfaatkan rengekan anak yang meminta dibelikan sesuatu untuk mengajarinya mandiri dan bertanggung jawab pada dirinya sendiri dengan menabung. Jika anak meminta dibelikan sesuatu maka tekankan anak agar mau menabung dan menyuisihkan uang sakunya. Bagi anak usia dini yang belum mengerti dan belum paham mengenai uang dapat dialihkan dengan cara memberinya alternatif memilih salah satu dari berbagai keinginannya dan harus pula diberi pemahaman bahwa itupun tidak langsung dipenuhi, tapi menunggu, misalnya sampai minggu depan. Konsep ini hampir sama dengan menabung, yaitu membiasakan mengendalikan keinginan dan melatih kesabaran.
Ganti dengan video
Anak, terutama balita, belum terlalu bisa membedakan mana siaran TV dan mana tayangan VCD/DVD, mungkin hanya sebaguian kecil saja yang sudah bisa membedakan. Dengan melihat kenyataan ini maka kita bisa memilihkan video-video bermuatan pendidikan dan ilmu pengetahuan yang kita putar pada jam-jam dimana anak biasa nonton TV.
Perhatikan pula kelompok pergaulan anak.
Kita jangan melupakan pula interaksi anak dengan teman-temannya, dalam suatu komunitas setiap manusia selalu berusaha mnegidentikkan dirinya dengan kelompoknya, apalagi kelompok itu dirasa nyaman bagi eksistensinya. Dalam setiap komunitas anak selalu terdapat isu atau sesuatu yang menjadi bahan ciri, seperti kebiasaan, kesukaan atau favorit, misalnya terhadap tokoh tertentu yang mendorong anak menonton acara itu, atau kebiasaan-kebiasaan lain akan diikutii oleh semua anggotanya, termasuk dalam kepemilikan sesuatu, rata-rata anak tahu yang punya ini siapa yang punya itu siapa, dari sini pula sikap konsumtif itu berawal.
Maka dengan melihat realita itu kita bisa berkompromi dengan orang tua-orang tua dari teman-teman dekat anak kita untuk membudayakan sesuatu yang baru atau menciptakan trend baru yang lebih bermanfaat sehingga dalam satu kelompok anak kita tanpa sadar akan memiliki kebiasaan baru yang terarah, misalnya biasakan secara bersama-sama ke perpustakaan, biasakan menyaksikan video tentang ilmu pengetahuan dll, hal ini diharapkan dapat mengalihkan perhatian anak terhadap keinginan memiliki sesuatu berdasarkan iklan TV.
Mediasi/pendampingan
Amy Nathanson, seorang ahli media anak, dalam penelitiannya menyebutkan beberapa bentuk mediasi, salah satunya adalah Mediasi Aktif. Dalam mediasi aktif ini ada tiga bentuk, yang pertama mediasi aktif positif yaitu orangtua mendampingi anak ketika menonton TV dengan memberikan komentar-komentar positif ketika muncul tayangan yang bisa dijadikan teladan.
Yang kedua mediasi akif negatif, ini paling tepat ketika muncul tayangan iklan, dalam mediasi ini orangtua memberikan komentar-komentar negatif dan menjelaskan hal-hal negatif dan tidak sesuai terhadap tayangan yang muncul. Yang ketiga, mediasi aktif netral, di sini orang tua tidak memberikan komentar positif atau, tapi hanya menambahkan informasi tambahan atau instruksi kepada anak berhubungan dengan tayangan iklan TV.
Menyalahkan dan menolak kemunculan iklan TV tentu bukanlah solusi bijak dan pada kenyataannya memang sangat mustahil, karena perkembangan dunia memang sedang mengarah ke sana, maka yang harus berubah adalah diri kita sendiri untuk lebih peka dan kreatif dalam melindungi keluarga kita, terlebih anak-anak dari pengaruh negatif TV.
baca selengkapnya...
Melindungi Anak, Melindungi Masa Depan
Hasanah Safriyani, Psi / Dimuat di Buletin RC
Laki-laki muda itu duduk di depan saya. Caranya berpakaian khas anak remaja saat ini. Parasnya yang hitam manis berpadu kontras dengan ekspresinya yang tampak kurang lepas. Kisah yang dia paparkan, membuat saya tercengang
“ Saya bingung sama diri saya sendiri. Saya itu susah sekali mengendalikan emosi. Setiap kali saya marah, saya pasti ingin menghantam atau memukul sesuatu. Dulunya saya sering memukul siapa saja yang membuat saya kesal. Jadinya berantem deh. Setelah kuliah ini, saya nggak mau lagi bikin masalah. Makanya kalau saya kesal atau marah, saya alihkan ke benda mati. Mbak mau tau apa akibatnya? Semua barang saya rusak. Minggu lalu saya ditegur ibu kost saya gara-gara pintunya hampir jebol saya tendang. Semua barang saya, kipas angin, tape, computer semua jadi error gara2 saya pukul atau lempar. Sudah gila saya barangkali, tapi kalo nggak gitu, saya pasti sudah menyakiti teman2 kuliah saya, lebih gila lagi kan? Belum lagi kalau mereka semua balas mengeroyok saya, bisa habis saya.
Baru-baru ini ada kejadian yang bikin saya sadar dan menyesal. Waktu itu pacar saya datang ke kost, kami bertengkar. Entah bagaimana jalan ceritanya, tiba-tiba saya pukul dia. Dia pingsan. Saya nggak bisa memaafkan diri saya sendiri gara-gara kejadian itu….”
Jeda sebentar. Dia berhenti untuk menarik nafas. Mulailah saya bertanya tentang masa kecilnya
“Orang tua saya adalah orang yang dihormati di kampung saya. Apapun yang beliau inginkan pasti orang akan memenuhi. Ayah punya banyak anak buah. Setiap anak buahnya melakukan kesalahan, pasti akan kena pukul. Saya juga mendapat perlakuan yang sama. Kalau saya salah, saya akan kena pukul. Kalau saya bersalah dengan kakak saya, selain ayah, kakak juga pukul saya. Kalau teman saya membuat saya marah, berarti dia salah, saya pukul dia. Kalau sudah dipukul, dia jadi jera. Kalau jera dia nggak akan berani bikin kesalahan lagi. Sampai SMApun, saya selalu begitu. Kawan2 saya nggak terlalu berani dengan saya, mereka tahu ayah saya. Tapi disini, saya nggak bisa begitu lagi, mereka nggak tahu ayah saya siapa. Kalau saya pukul mereka, mereka semua pukul saya, habis saya. Saya tahu saya harus cari cara supaya nggak main pukul kalau marah. Tapi gimana? “
Percakapan selanjutnya adalah pembicaraan yang biasa terjadi dalam konseling, tidak pada porsinya untuk dibeberkan disini. Tapi satu hal yang ingin saya angkat bahwa apa yang dialami anak, akan berdampak pada masa depannya. Orang tua pemuda ini mungkin tidak sadar bahwa mereka telah menancapkan pedang yang menusuk buah hatinya di masa depan. Tegakah kita melakukannya??
Love, Yani
Catatan: peristiwa di atas adalah peristiwa nyata, percakapan dilakukan bukan di ECCD-RC
baca selengkapnya...
Mengajak Anak Bertamu
Hasanah Safriyani, Psi
Mengajak anak bertamu, seringkali menjadi masalah yang dilematis bagi orang tua. Di satu sisi, melalui bertamu anak akan belajar banyak hal: mengenal tempat yang berbeda, belajar sosialisasi, etika, sekaligus sebagai wahana mengakrabkan seluruh anggota keluarga. Di sisi lain, mengajak anak bertamu juga memiliki resiko: anak tidak nyaman lalu mengajak pulang, anak rewel, anak membuat kekacauan, atau malah bikin malu!
Sebetulnya sayang kalau karena resiko tadi kita lantas memilih untuk meninggalkan anak di rumah. Itu sama artinya kita menghilangkan kesempatan anak untuk mengembangkan dirinya. Karena selain dampak positif seperti yang telah disebutkan di atas, anak yang sering diajak bertamu juga akan memupuk rasa percaya diri, rasa dihargai dan ”dianggap”, dan yang pasti wawasannya akan banyak bertambah. Tapi bagaimana dengan resikonya? Demikian beberapa hal yang mungkin patut dicoba, untuk meminimalisir resiko saat mengajak anak bertamu.
Pertimbangkan kenyamanan anak
Suasana yang tidak nyaman cenderung membuat anak susah diajak bekerjasama. Maka jika ingin mengajak anak bertamu kita musti memperhatikan: jarak tempuh, kondisi tempat yang akan dikunjungi, serta lamanya kunjungan. Jika kira-kira perjalanan akan memakan waktu lama ada baiknya membawa pakaian ganti, begitu pula jika di tempat kunjungan nanti kemungkinan anak akan bermain basah-basah atau kotor. Beberapa buku bacaan ataupun mainan milik anak juga perlu dibawa agar anak disana tidak bosan. Tentu saja makanan dan minuman yang disukai anak, karena anak yang lapar akan cenderung rewel. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah membatasi waktu, sehingga anak tidak terlalu bosan. Masalah waktu sangat tergantung dengan seberapa nyamannya anak disana.
Persiapkan anak
Agar lebih adil buat anak, anak juga perlu diajak mempersiapkan diri. Orang tua bisa memberi informasi tentang tempat yang mau dikunjungi, siapa yang akan ditemui, dan apa bisa dilakukan disana. Bicarakan etika dan aturan yang berlaku di tempat yang akan kita datangi. Batasi info aturan pada hal yang boleh dilakukan anak, sehingga tidak penuh dengan ancaman.”Disana nanti kamu boleh main di halaman, tidak keluar pagar. Hiasan yang ada di ruang tamu untuk dilihat saja ya...” bukan ”nanti disana jangan keluar pagar lho, awas nanti kalau kamu pegang-pegang hiasan di ruang tamu!!”. Dengarkan juga apa yang dikhawatirkan anak di tempat bertamu nanti, lalu cari bersama solusinya.
Hargai anak
Perlakukan anak sebagai individu yang sedang bertamu juga, bukan sekedar pelengkap penderita yang kita abaikan. Saat datang anak diperkenalkan ke tuan rumah (boleh menganjurkan anak untuk bersalaman, tapi tidak perlu terlalu ngotot karena bisa membuat anak menarik diri). Kalau pemilik rumah juga punya anak, akan sangat baik jika anak didukung berinteraksi dengan sebayanya. Anak juga boleh ikut berbicara, meski begitu ada baiknya juga anak diperkenalkan dengan ”waktunya bicara” dan ”waktunya mendengarkan”. Hindari menegur anak dengan intonasi keras di depan orang asing (kecil-kecil anak juga punya harga diri lho..). Jika ingin menegur anak yang lupa melepas sepatu kita bisa mendekatinya dan berbisik ”Kak.. sepatunya ditaruh di luar yuk..”. Merendahkan anak untuk kesopanan juga sangat tidak disarankan, misalnya ”duh maaf ya jeng.. anak saya memang nakal” kalimat seperti ini hanya akan membuat anak berpikir bahwa ia memang nakal, plus merasa tidak dihargai.
Evaluasi
Karena ini projek bersama, tidak ada salahnya saling memberi masukan. Sepulang dari bertamu, kita bisa melakukan evaluasi kecil-kecilan dengan anak. Anak juga boleh memberi masukan kepada orang tuanya.
Meskipun sudah dipersiapkan sesiap-siapnya, mungkin saja buah hati kita melakukan kesalahan saat bertamu. Namanya juga anak-anak. Ketulusan dan sikap bijak orang tuanyalah yang akan membantu anak untuk belajar dari kesalahannya, tanpa harus menjadi trauma. Semoga berhasil!
baca selengkapnya...
I Just Wanna Say I Love You
Demitria Budiningrum / Materi Siaran Radio Anak Jogja
Muah.... mama sayang sama Adek........ Muah.... mama sayang sama kakak.’
Sudahkah kita, orangtua, mengucapkan dan menunjukkan perasaaan kasih sayang kepada anak?
Katakan saja
Kita tentu pernah mendengar orang yang mengucapkan bahwa cinta itu tidak perlu diucapkan dengan kata-kata, cukup lewat perbuatan. Benarkah?
Bagi anak usia dini, perbuatan saja tidak cukup. Anak belajar juga dari mendengarkan. Ia perlu belajar bahwa tindakan yang kita lakukan, misal: memeluk dan menciumnya itu, disebut sayang. Anak usia dini sedag belajar berbagai perasaan, termasuk kasih sayang. Maka, ungkapkanlah bahwa kita sayang padanya.
Tunjukkan dengan perbuatan sehari-hari
Kata-kata sayang tentu juga perlu disertai perbuatan. Orangtua menjadi contoh perilaku seperti apa saja yang menunjukkan perasaan sayang kita. Sentuhan sayang, paling mudah dirasakan anak sebagai perilaku sayang. Tidak hanya kepada anak lho, tapi juga kepada suami atau istri. Kita tidak perlu sungkan mencium atau memeluk suami/ istri di depan anak.
Selain sentuhan sayang, tunjukkan juga perbuatan ’sayang’ lainnya, misal: saling membantu antar anggota keluarga, saling mengingatkan ketika ada yang berbuat salah, mau memaafkan, dsb.
Ajarkan melalui pengalaman sehari-hari
Kasih sayang tidak hanya diberikan pada anggota keluarga. Anak perlu mengetahui bahwa kasih sayang itu juga untuk orang lain, dan semua yang ada di sekitar anak termasuk binatang, tumbuhan, dan benda mati lainnya. Contoh: merawat mainan, menyirami tanaman, berbagi dengan anak panti asuhan, dsb.
Dorong anak untuk melakukan
Yang terpenting lagi adalah, dorong anak untuk mengucapkan dan melakukan perbuatan sayang. Jangan biarkan anak hanya melihat atau memberitahu orang lain. Ajak dia untuk melakukan juga bersama kita. Intinya adalah, libatkan anak untuk melakukan.
baca selengkapnya...
Menghadapi Anak Yang Suka Berteriak
Murni Setiyasih / Dimuat di Harian Jogja
Kenapa anak suka berteriak?
1.terbiasa melihat orang dewasa di sekitar berbicara dengan suara keras/berteriak
2.mencari perhatian. Biasanya orang tua segera mendekati atau memberi perhatian supaya berhenti berteriak
3.orang dewasa menyelesaikan masalahnya atau memarahi anak dengan berteriak. Maka anak belajar menyelesaikan masalah dengan cara yang sama
4.anak tidak terbiasa melampiaskan emosinya secara positif. Ketika menghadapi masalah anak akan memilih berteriak sebagai cara melampiaskan emosi
Apa yang perlu dilaukkan orang tua untuk mengurangii kebiasaan berteriak?
1.biasakan berkomunikasi dengan siaapun dengan suara pelan
2.beri pengertian bahwa kita bisa mendengar suaranya saat bicara pelan/ biasa saja
3.katakan bahwa kita tidak akan memberi perhtian jika dia berteriak
4.abaikan jika anak berteriak. Sebaliknya beri perhatian atau reward jika anak bisa bicara pelan/biasa saja
5.hindari memarahi anak dengan berteriak. Dekati dan bicaralah dengan suara pelan.
6.minta dukungan dari orang dewasa yang tinggal serumah.
baca selengkapnya...
Ajak Anak Belajar di Dapur
Demitia Budiningrum
Bicara tentang dapur, kebanyakan kita bicara tentang tempat memasak, tempat dihasilkannya makanan jadi. Nah, kalau sudah bicara tentang masak-memasak, tentu juga ada kompor atau alat lain untuk memasak,api, bahan bakar, dan barang panas. Orangtua akan mengatakan bahwa dapur berbahaya karena anak bisa terbakar, belum dapat menyalakan kompor sendiri, letak kompor tinggi, dll. Belum lagi jika ada minyak panas, air panas, wajan panas, panci panas, dsb. Orangtua khawatir anak memegang benda panas, dan kecipratan air atau minyak panas. Tentu tidak menyenangkan jika ini terjadi.
Dapur dianggap berbahaya bagi anak, selain karena terkait dengan penggunaan api dan banyak benda panas, juga dikarenakan banyak benda berbahaya di dalamnya. Sebut saja pisau dengan berbagai ukuran, ulekan yang berat, piring dan gelas kaca, ada di dapur. Orangtua khawatir pisau akan melukai anak ataupun orang lain karena anak belum dapat menggunakan pisau dengan benar. Ulekan yang berat dikhawatirkan menjatuhi anak. Piring dan gelas kaca dikhawatirkan melukai anak jika jatuh dan pecah, terutama jika anak mau ikut mencuci piring.
Hal tersebut menjadi alasan bagi orangtua untuk melarang anak ikut ke dapur. Ada satu alasan lagi yang juga sering digunakan orangtua untuk melarang anak ke dapur. Alasan itu adalah: anak justru membuat kacau jika ikut ’bantu-bantu’. Para orangtua mungkin pernah mengalami ketika anak ikut membuat kue, tepungnya malah berantakan. Atau mengalami ketika anak ikut memasak sayur, penampilan sayurnya jadi nggak karu-karuan. Atau ketika anak minta bantu cuci piring, anak malah mainan air dan sabun. Wah..wah...wah... kalau ini yang terjadi, semakin kecillah kemungkinan anak boleh ikut nimbrung di dapur.
Sebenarnya, apa benar dapur tempat yang harus dijauhi anak? Tidak adakah sesuatu yang dapat dilakukan anak di dapur, yang berguna baginya? Sebenarnya, ada banyak hal yang dapat dipelajari anak di dapur. Ini beberapa diantaranya:
Mencuci piring. Anak dapat belajar identifikasi benda yang dapat pecah dan tidak, melenturkan jemari, latihan hati-hati, mengikuti aturan, sebab akibat (mengapa sabun dicampur air bisa berbusa?), dsb.
Menyimpan peralatan. Anak belajar mengklasifikasi berdasarkan jenis (kelompok sendok, garpu, cangkir, mangkuk, dsb.), latihan hati-hati, konsentrasi, ketelitian, berhitung konkret, membandingkan banyak-sedikit, dsb.
Memetik sayur. Anak dapat belajar ukuran panjang-pendek, besar-kecil, sifat benda (keras, kasar, halus, dsb.), identifikasi dan klasifikasi berdasarkan warna, kandungan gizi, kedekatan dengan orangtua, dsb.
Mencuci bahan masakan. Anak belajar sifat benda (cair, padat, mudah larut dsb.), kebiasaan hidup bersih, kelenturan jemari, ketelitian,dsb.
Masih banyak kegiatan yang dapat dilakukan anak di dapur. Yang pasti, kegiatan tersebut menstimulasi seluruh aspek perkembangan anak.
Ternyata, dapur juga dapat menjadi tempat belajar anak. Namun, dapur juga dapat berbahaya. Nah, apa yang dapat orangtua lakukan agar dapur aman dan dapat menjadi tempat belajar anak?
Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan ketika anak ikut membantu di dapur, sehingga terhindar dari bahaya dan kekacauan:
1.Letakkan benda-benda yang boleh digunakan anak pada tempat yang mudah dijangkau anak, benda tajam di tempat yang jauh dari jangkauan anak, benda berat di bagian bawah. Ini dilakukan untuk menghindari bahaya anak jatuh karena harus memanjat untuk mengambil sesuatu dan tertimpa atau kejatuhan benda berbahaya.
2.Beri penjelasan apa saja yang dapat membahayakan, sertakan alasan dan akibat jika sembarangan. Misalnya: kompor dengan api menyala, saat sedang memasak atau menggoreng, alat masak yang baru diangkat dari kompor menyala, pisau, dsb.
3.Buat kesepakatan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak di dapur. Misalnya: boleh mencuci sayuran, boleh mencuci benda-benda yang tidak dibuat dari kaca dan cukup ringan, boleh melihat orangtua menggoreng dari tempat yang cukup jauh, tidak boleh menyalakan dan mematikan kompor sendiri, tidak boleh memegang wajan panas, ikut bantu membereskan, dsb.
4.Beri kesempatan anak bereksplorasi sesuai kemampuannya. Artinya, anak boleh mencoba berbagai cara yang aman ketika mengerjakan sesuatu. Biarkan anak bermain-main dengan busa sabun, memetik sayuran dengan caranya, dsb. Orangtua lebih banyak menjaga anak agar tetap sesuai kesepakatan dan terhindar dari bahaya. Yang terpenting bukan penampilan masakan, melainkan apa yang dipelajari anak.
5.Beri pujian atau dukungan ketika anak berhasil melakukan sesuatu. Hal ini akan meningkatkan rasa percaya diri anak dan mendorongnya untuk berbuat lebih baik lagi.
Uraian di atas menunjukkan bahwa dapur juga dapat menjadi tempat belajar bagi anak. Ternyata, anak tidak hanya belajar di sekolah. Lebih dari itu, anak belajar banyak di rumah.
baca selengkapnya...
Menghadapi Anak Agresif
Bernadette Sekarjati Swastiningrum / Dimuat di Harian Jogja
Apa yang dilakukan orang tua ketika anak berperilaku agresif? Apakah membiarkan? atau membalas memukul dengan tujuan agar anak jera? Sebenarnya tindakan semacam itu justeru semakin memberi penguatan pada anak bahwa kekerasan adalah jalan menyelesaikan masalah. Perilaku agresifnya tidak akan berkurang tetapi justru bertambah yang tentu saja tidak baik bagi perkembangan sosial dan emosinya kelak. Berikut beberapa hal yang perlu diketahui orang tua agar dapat memberikan respon yang tepat terhadap perilaku agresif anak;
Dampak perilaku agresif
1.Anak akan kesulitan untuk mengungkapkan perasaan negatifnya.
2.Anak tidak mampu mengendalikan emosinya.
3.Anak tidak tahu cara mengungkapkan emosinya dengan lisan atau berkomunikasi.
4.Anak menjadi kurang berempati pada orang lain. ingin menang sendiri, dan tidak mau toleransi dengan orang lain.
Kenapa anak jadi agresif ?
1.Mencari perhatian
Perhatian biasa diperoleh ketika anak berperilaku buruk,sehingga ini dijadikan alat oleh anak untuk memperoleh perhatian.
2.Meniru
Ingat bahwa anak usia dini suka meniru. Ketika dia melihat adegan di TV ada adegan pukul-pukulan bisa saja ditiru dan dipraktekkan. Karena buat anak yang penting fun, dan belum memikirkan resiko.
3.Sulit Mengungkapkan Perasaan Negatif
Emosi anak yang memuncak membuat anak menjadi tak terkendali kemudian memukul.. Hal ini terjadi karena si anak kesulitan untuk mengungkapkan perasaan negatifnya dengan lisan.
Kiat menghadapai perilaku agresif anak
1.Jelaskan
Ketika anak memukul, beritahu padanya jika anda sakit karena dipukul.
Dengan berusaha menumbuhkan empati yang ada, anak akan lebih berhati-hati bersikap. Tentu perlu waktu supaya anak mampu memahami yang kita jelaskan. Namun lambat laun anak pasti akan mampu mengubah sikap agresifnya.
2.Tenang Menghadapi Anak
Tenang menghadapi anak akan lebih tepat sasaran dalam proses merubah perilaku agresif anak. Anak akan mudah mengerti apa yang anda harapkan dan anak akan mencontoh pula perilaku anda yang tenang menghadapi masalah. Hindari ancaman,berkata kasar dan kekerasan fisik.
3.Beri Perhatian Yang Cukup
Bila penyebabnya adalah mencari perhatian orang tua, maka orang tua perlu mengoreksi diri apakah memang selama ini perhatian untuk anak masih kurang. Kalau memang demikian, ada baiknya jika anda meminta maaf dan berjanji akan semakin banyak meluangkan waktu untuknya.
4.Ajarkan anak Mengungkapkan Perasaan Negatif
Jika sudah tenang, ajak anak untuk mengungkapkan perasaannya dengan menceritakan apa yang dia rasakan. Jika anak masih sulit mengungkapkan perasaannya pancing dia dengan pertanyaan-pertanyaan misalnya : “Adik sedih ? ….Mengapa ?”
Demikian beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menghadapi perilaku agresif anak.
Semoga bermanfaat
baca selengkapnya...
Memelihara Binatang
Demitria Budiningrum / Dimuat di Harian Jogja
Saat ini, apak atau Ibu mungkin sedang bingung karena si kecil mnta dibelikan binatang peliharaan. Bingung mungkin karena khawatir anak tertular penyakit, atau karena memikirkan manfaatnya bagi anak, atau karena alasan lainnya.
Manfaat
Mengembangkan tanggung jawab: ketika orangtua dan anak sudah mengambil keputusan untuk memelihara binatang, tentu yang diperlukan adalah tanggungjawab merawat binatang. Mulai dari memberi makan dan minum, sampai menjaga kebersihan dan menjaga kesehatannya. Jika anak berhasil melakukannya, ia belajar mengembangkan rasa tanggungjawabnya.
Mengembangkan disiplin: merawat binatang tentu memerlukan ketekunan dan kedisiplinan. Disiplin memberi makan dan minum, disiplin menemani bermain, disiplin membersihkan dan memberi perawatan kesehatan, dan disiplin menjalankan kesepakatan. Melalui ini, anak mengembangkan kebiasaan disiplin sejak dini.
Mengembangkan kasih sayang: kasih sayang tentu saja tdak hanya untuk sesama manusia. Kasih sayang tentu saja juga untuk binatang dan semua yang ada di sekitar kita. Dengan menyayangi binatang peliharaannya, anak mengembangkan perilaku menyayangi yang dapat diterapkan kepada teman-teman dan orang lain.
Resiko
Kebersihan tidak terjaga
Kebersihan kandang ataupun tempat tinggal binatang peliharaan tentu harus selalu terjaga. Menjadi masalah ketika tempat tinggal binatang kotor, karena akan mengotori rumah tinggal kita.
Penyebaran penyakit
Penyakit akan timbul karena kebersihan tempat tinggal binatang peliharaan tidak terjaga. Mulai dari penyakit gatal-gatal, gangguan pernaasan, sampai penyakit lain yang berbahaya.
Mengganggu tetangga
Gangguan bagi tetangga tidak hanya disebabkan oleh bau tak sedap yang timbul dari kotoran binatang. Dapat juga mengganggu karena bunyi berisik, perilaku binatang yang merusak pekarangan tetangga, sampai menyakiti orang yang lewat.
Cara mendampingi
Cari informasi mengenai perawatan, perilaku binatang, dan resikonya. Hal ini penting untuk mengukur kesanggupan keluarga merawat binatang dan mencegah resiko yang mungkin ditimbulkan.
Pilih binatang yang mudah perawatannya. Untuk anak usia dini, disarankan merawat binatang yang mudah pemeliharaannya. Hal ini mengingat perkemangan dan perubahan minat anak yang mudah berubah.
Buat kesepakatan tugas dan tanggungjawab, serta konsekwensinya. Kalau sudah diputuskan akan memelihara bintang, tentu harus dibuat kesepakatan bersama mengenai perawatannya. Hal ini penting agar kita tidak menjadi orang yang tidak bertanggungjawab dengan menelantarkan binatang.
Selalu memantau kesehatan binatang peliharaan. Banyak juga penyakit yang dapat ditimbulkan karena memelihara binatang. Oleh sebab itu, pastikan binatang dan tempat tinggalnya selalu dalam keadaan sehat dan bersih. Bila perlu, lakukan pemeriksaan dan berikan suntikan vaksin secara rutin
Beri pengertian tentang kebiasaan cinta lingkungan hidup. Tidak semua binatang untuk dipelihara. Banyak binatang yang lebih baik hidup di alam bebas. Bahkan, tidak ada salahnya memutuskan untuk tidak memelihara binatang. Kita tetap saja dapat dikatakan penyayang binatang karena membiarkan binatang hidup di alam bebas.
baca selengkapnya...
Tidak Bisa Lepas Dari TV
Herlita Jayadiyanti
Lagi2 televisi, banyak orangtua yang mengeluhkan anaknya yang “kecanduan TV”, sulit
sekali melepaskan anak dari ketergantungan pada benda yang satu ini. Bahkan anak yang sulit bangun sekalipun akan bangun dengan cepat begitu mendengar soundtrack film kartun kesayangannya.
Kenapa anak kecanduan nonton tanyangan di Televisi?
Mencontoh orangtua
Kadang orangtua memang perlu instrospeksi diri sebelum menjatuhkan kesalahan pada anak. Coba Ibu atau bapak ingat2 berapa jam waktu yang dihabiskan dalam sehari untuk nonton TV? Kalau orangtua lebih suka nonton TV daripada baca buku atau beraktifitas bersama anak, maka jangan heran kalau anak juga memilih TV sebagai kegiatan utamanya. Ingat loh anak usia dini peniru ulung.
Tidak ada pilihan kegiatan
Karena khawatir anak bermain diluar dengan teman yang belum tentu baik dan pergaulan yang belum tentu benar, orangtua lalu merasa lebih aman jika anaknya bermain didalam rumah. Sayangnya tindakan ini tidak dibarengi dengan beragam aktifitas indoor yang edukatif akibatnya ya larinya ke TV juga.
Kebiasaan
Biasanya karena ingin anak tenang saat makan, orangtua lalu menyetel TV. Lama2 secara tidak sadar anak lalu terikat pada TV.
Lalu bagaimana sebaiknya orangtua bersikap ?
Jadi teladan
Orangtua yang lebih memilih membaca buku atau berinteraksi dengan anak diwaktu luangnya daripada nonton TV bisa menjadi teladan atau contoh bagi anak untuk melakukan hal yang sama. Akan mudah bagi kita melarang anak nonton TV jika kita juga tidak menonton TV. Ingat loh anak usia dini itu kritis, jika kita melarang nonton TV tapi kita sendiri nonton TV anak pasti akan protes “ kok…kalo mama atau papa boleh sih…..”
Berikan alternatif kegiatan lain
Alternatif kegiatan didalam rumah sebagai pengganti TV gak harus mahal kok, bisa sederhana dan murah tergantung kreativitas kita. Bisa dengan membaca buku, menggambar, bermain puzzle atau melakukan hal2 yang jarang dilakukan tapi asik buat anak2 seperti beres2 kamar, merapikan rak sepatu, mencuci piring, masak atau yang lainnya. Dari hal2 sederhana ini banyak loh yang bisa diperoleh anak. Salah satunya melatih otot2 jari tangan atau motorik halus.
Latih anak bersosialisasi
Dorong anak untuk bermain bersama teman2 nya, jika kita khawatir boleh juga mengajak teman2 main kerumah. Intinya adalah mengajarkan anak untuk mengembangkan kemampuan sosialisasinya. Kemampuan sosialisasi penting agar anak mudah beradaptasi nantinya.
Buat jadwal aktivitas harian anak
Sama dengan jadwal sekolah, jadwal tidur siang, jadwal belajar maka nonton TV pun ada jadwalnya. Tidak setiap saat bisa dengan mudah menyalakan TV tapi harus ada waktunya misalnya setelah mandi sore atau setelah belajar. Jadwal dibuat bersama dengan anak itu lebih baik agar anak merasa keberadaannya dihargai.
Batasi waktu nonton
Walaupun sudah terhadwal bukan berarti lalu bisa lama2 didepan TV ya, tetap ada aturan waktu yang harus diikuti. Agar lebih mudah, patokannya tidak lebih lama dari waktu yang digunakan anak untuk belajar. Kalau pada hari sekolah sehari nonton TV 2 jam karena belajarnya 2 jam maka ketika libur boleh ditambah 1 jam ( jangan lalu karena libur boleh nonton dari pagi sampai malam ya, bisa2 kita akan kesulitan dalam menegakkan disiplin). Ketika nontonpun tetap dampingi anak dan pilihkan tayangan2 yang memang bermanfaat dan cocok untuk usianya.
Konsisten
Konsisten gak hanya buat anak tapi juga buat diri kita sendiri. Kalau anak hanya boleh nonton TV selama 2 jam dijam sekolah maka dalam kondisi capek pulang kerja atau tidak tetap harus diingatkan. Jangan karena hari ini malas berdebat dengan anak lalu aturan jadi longgar. Jika kita hanya membolehkan anak nonton TV selama 2 jam maka jangan habiskan waktu kita berjam-jam didepan TV.
Letakkan TV pada tempat yang mudah diawasi
Jangan meletakkan TV ditempat yang sulit diawasi apalagi dikamar pribadi anak. Sebaiknya letakkan TV diruang keluarga sehingga mudah diawasi.
Sediakan waktu bersama anak
Agar anak tidak terfokus pada TV maka lakukan aktifitas bersama anak seperti makan bersama atau mengerjakan PR. Sisa waktu juga bisa digunakan untuk ngobrol sehingga makin mempererat hubungan anak dengan orangtua.
Ada konsekuensi
Jika anak melanggar kesepakatan yang sudah dibuat, maka jangan segan2 memberi sanksi. Bukan hukuman ya tapi lebih pada konsekuensi agar anak belajar bahwa aturan memang harus ditaati. Bisa dengan mengurangi jam nonton dalam sehari jadi satu jam saja atau tidak boleh nonton TV selama seminggu jika pelanggarannya berat.
Semoga bermanfaat.
baca selengkapnya...
Aduuh… Si kecil ogah mandi.....
Hasanah Safriyani, Psi / Dimuat di Harian Jogja
Seorang ayah mengeluh karena anaknya sulit sekali diminta mandi. Setiap pagi selalu harus “berperang” dengan anak untuk membuatnya mau segera mandi dan tidak terlambat ke sekolah. Meskipun tidak semua anak sulit mandi, tapi keengganan mandi anak menjadi problema tersendiri bagi orang tua. Sebetulnya sepenting apakah mandi itu?
Apa pentingnya mandi?
* Mandi memiliki peranan penting dalam perkembangan anak, terutama dalam hal: Kesehatan. Ini merupakan manfaat yang paling tampak. Dengan mandi badan menjadi bersih dan anak terhindar dari berbagai penyakit, dan menjaga kesehatan misalnya kesehatan gigi dan mulut, kesehatan kulit, telinga, dsb.
* Bantu diri. Banyak sekali keterampilan-keterampilan kecil yang bisa dilakukan anak sebelum, saat dan sesudah mandi. Misalnya membuka baju sendiri, mengambil dan meletakkan peralatan mandi, dll. Orang tua bisa memberikan bantuan seminimal mungkin sehingga anak mengembangkan kemampuan bantu dirinya.
* Kedisiplinan. Waktu mandi merupakan hal pertama dalam kedisiplinan yang dapat kita kenalkan pada anak. Waktu mandi yang disepakati bersama dan selalu dilakukan pada waktu yang sama akan membangun kemampuan mengelola waktu dan kegiatan.
* Kesempatan belajar Sains. Banyak sekali aktivitas sains yang dapat dilakukan sambil mandi. Gelembung sabun, mengapung dan tenggelam, informasi tentang masuknya penyakit ke tubuh, dapat dilakukan sambil mandi. Sehingga sambil mandi anak juga bisa belajar.
Mengapa anak tidak mau mandi?
Anak enggan mandi ada beberapa alasan, antara lain: Karena anak sedang asyik dengan kegiatannya lalu enggan menghentikannya. Misalnya sedang menonton TV, bermain dll. Air yang dingin juga bisa membuat anak enggan mandi. Selain itu pengalaman tidak menyenangkan saat mandi seperti pedih terkena shamphoo atau sabun, pernah terpeleset, pernah dihukum di kamar mandi, juga membuat anak memiliki persepsi tidak nyaman dengan kamar mandi. Selain itu anak juga bisa enggan mandi karena takut dengan kamar mandi, bisa karena posisi kamar mandi yang agak jauh, gelap, atau karena anak pernah menonton adegan menakutkan di media dengan setting kamar mandi.
Apa yg sebaiknya dilakukan orang tua?
Orang tua perlu mendengarkan apa yang dirasakan oleh anak dan menemukan penyebabnya, setelah itu memberikan respon sesuai dengan penyebabnya. Misalnya anak malas mandi karena dingin, bisa kita atasi dengan mencampur sedikit air panas ke dalam ember mandi. Untuk menentukan waktu mandi, bisa dibuat kesepakatan dengan anak jam berapa ia akan mandi pagi dan jam berapa ia mandi sore, lalu dilaksanakan dengan konsisten. Buat waktu yang realistis untuk anak mandi, misalnya tidak dibuat di tengah waktu acara TV yang paling disukai anak, karena anak akan cenderung melanggarnya. Waktu mandi bisa dijadwalkan sebelum atau sesudah acara kegemaran anak. Orang tua harus tegas dalam melaksanakan kesepakatan ini. Selain itu orang tua juga perlu memberi contoh untuk disiplin mandi. Bagaimana kita bisa mendidik anak rajin mandi kalau kita malas mandi?
Agar mandi lebih menyenangkan
Agar anak merasa bahwa mandi itu asyik, kita bisa mengajak anak bermain sambil mandi. Beberapa kegiatan yang bisa dicoba:
* Bermain sambil mandi : gelembung, mengapung dan tenggelam, menakar, menuang,
* Route yang nyaman dan aman menuju kamar mandi, beri penerangan yang cukup dan jalan yang mudah dilewati atau letakkan kamar mandi di tempat yang terpantau sehingga anak tidak merasa ”sendiri”.
* Membuat kamar mandi menyenangkan untuk anak dengan aksesoris, hiasan dinding, peralatan mandi yang unik, lucu dan murah misalnya shower dari botol bekas
* Menggunakan shampo dan sabun yang tidak pedih, atau memakai kacamata renang
* Bernyanyi atau main games sambi mandi
baca selengkapnya...
