Herlita Jayadiyanti / Dimuat di Buletin RC
Ma..., adik semalem nonton TV ada perempuan sama laki-laki ciuman, brarti adik juga boleh dong ma, ciuman sama temen adik yang perempuan..., kata TV-nya itu tandanya sayang...loh Ma”
Yah, kok tante itu pake rok pendek banget, biar gak panas ya? Adik mau donk yah dibelikan rok yang pendek kayak tante itu..., cantik ya yah..”Pokoknya besok beliin ya...
Prihatin, itu satu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya ketika secara tidak sengaja mendengar celoteh anak-anak balita disalah satu tempat bermain anak di Jogjakarta. Baru dua anak loh yang saya dengar, bagaimana dengan jutaan anak yang lain ? bagaimana juga jika mereka terlahir dan berada ditengah keluarga yang belum siap memberikan jawaban yang tepat untuk memenuhi rasa ingin tahu mereka ? duh, dimana perlindungan buat mahkluk2 mungil nan polos ini, mahkluk tanpa dosa yang belum matang secara fisik, mental, maupun sosial, selain juga masih sangat rentan, tergantung dan dalam masa perkembangan.
Belum hilang rasa prihatin saya, keesokan harinya datang seorang Ibu dengan wajah yang bingung lalu mengalirlah unek-unek yang selama beberapa hari ini dipendam sendiri...
” Mbak anak saya tuh kemaren kedapetan nonton film porno, saya sendiri yang lihat mbak, wah sedih, marah, bingung, semua campur mbak, abis baru TK besar, usianya aja belum 7 tahun.., katanya diajak omnya yang juga masih SD, yang buat saya mau pingsan ternyata tidak hanya sampai situ mbak, anak saya dengan polosnya bilang pernah ”dipegang-pegang”sama om-nya ketika habis nonton.” lalu Ibu itupun tidak bisa lagi berkata-kata dan menangis.
Ternyata pornografi apapun bentuknya mau lewat media yang masih sangat tradisional sampai tercanggih sekalipun, langsung dilihat ataupun lewat media, tetap satu hasilnya ” merusak moral anak bangsa”
Apa saja sih dampak negatif dari tayangan pornografi bagi perkembangan anak usia dini?
1.Pelecehan seksual
Setelah melihat tayangan pornografi, biasanya orang yang bersangkutan lalu mencari cara untuk melampiaskan dorongan seksnya. Nah anak usia dini adalah individu yang sangat rentan terhadap pelecehan seksual, apalagi di Indonesia sendiri pendidikan seks untuk anak bagi sebagian besar orangtua masih tabu dan belum waktunya diberikan. Hasilnya anak sering menjadi korban pelampiasan seks oleh orang disekitarnya terutama yang dekat dengan anak, seperti kasus diatas ternyata pelecehan dilakukan sendiri oleh om korban. Selain karena mudah dimanfaatkan, anak juga tidak tahu bahwa organ vital seharusnya tidak boleh ditunjukkan pada orang lain.
2.Penyimpangan seksual
Anak balita atau anak usia dini yang belum waktunya sudah melihat adegan atau tayangan hubungan intim suami istri atau tayangan –tanyangan porno lainnya, dan tidak ketahuan orangtua sehingga tidak langsung diberi pemahaman (dengan bahasa yang mudah dipahami anak tentu saja) ketika dewasa kelak bisa mengalami penyimpangan seksual, karena yang ada dalam benak anak adegan itu jorok, sakit, seram dll...
3.Sulit konsentrasi
Bagaimana bisa konsentrasi kalau yang ada dalam pikiran anak adalah pikiran-pikiran kotor. Belum lagi kalau anak belum paham sehingga yang ada dalam otak anak adalah berbagai pertanyaan seputar adegan atau tayangan porno yang baru dia lihat. Ingat loh ini konteksnya anak usia dini. Mana ada sih anak balita yang paham dengan adegan porno? Yang bahaya lagi, kalau sudah tertanam dalam otak maka untuk menghapus akan sangat sulit. Kenapa ? karena seks merupakan kebutuhan dasar manusia. Anak yang sudah menemukan kenikmatan seks sebelum waktunya dan tertanam secara mendalam dalam pikirannya akan sulit untuk dihilangkan. Kasihan kan padahal masa depannya masih panjang, masih banyak dibutuhkan konsentrasi2 dalam hidupnya....
4.Tidak percaya diri
Anak bisa saja jadi tidak percaya diri, kenapa? Karena frame yang dia lihat dari maraknya tayangan TV atau bahkan lingkungan disekitarnya, ” kalau mau cantik dan punya banyak teman ya harus berpakaian terbuka ”, ” kalau berpakaian tertutup kuper gak gaul, ndeso ”. Besok-besok anak akan muncul PD-nya ketika berpakaian minim dan terbuka.
5.Menarik Diri
Anak yang mengalami pelecehan seksual atau kekerasan seksual biasanya cenderung menarik diri, tertutup dan minder. Apalagi kalau orangtua tidak segera mencari bantuan psikolog dan cenderung menyalahkan anak, memarahi atau menggunakan kekerasan. Dimasa depan bisa saja kemudian anak akan sangat membenci orang dengan jenis kelamin tertentu karena mengingatkan pada kejadian seram masa kecilnya.
6.Meniru
Ingat loh anak usia dini adalah peniru ulung, apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar dari orang dewasa dan lingkungannya akan ditiru. Anak kan belum tahu mana yang benar atau mana yang salah, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, yang mereka tahu orang dewasa adalah model atau sumber yang paling baik untuk ditiru. Bisa dibayangkan kan kalau isi tayangan TV, adegan porno diinternet, HP, kelakuan orang-orang ditempat umum yang tidak bermoral ditiru mentah-mentah oleh anak ?
baca selengkapnya...
Senin, 15 Februari 2010
Dampak Pornografi Bagi Perkembangan Anak
Kekerasan Psikis, Luka Kecil di Hati si Kecil Meski Tak Tampak Tapi Menyakitkan
Ardhian Heveanthara / Dimuat di Buletin RC
Banyak anak yang malah merasa senang dan nyaman ketika orang tuanya tidak berada di rumah.... Mari luangkan waktu sebentar untuk mengamati anak anda baik-baik. Perhatikan apakah ada indikasi anak anda juga demikian?
"Mah, bacain ini mah" Sore itu Sisi (4 tahun) merengek pada minta dibacakan buku cerita kepada mamanya. Mamanya baru turun dari mobil, pulang dari kantor dan tampak suntuk dan kelelahan menolak permintaan Sisi.
"Nanti malam saja ya sayang, mama mau istirahat dulu".
"Nggak mau, nggak mau, sekarang..." Sisi terus merengek sambil menarik-narik rok mamanya yang sedang merebahkan diri di sofa. Sisi terus merengek, dan sang mama diam saja tidak menjawab. Sisi tetap tidak berhenti merengek, hingga mamanya berteriak keras, " Sisi..!! bisa diam tidak!! Mama jewer kamu nanti, mama lagi pusing, sana sama bibi, denger nggak mama bilang apa...sana...!!"
Sangat wajar emosi memuncak ketika hati sedang tidak nyaman, pikiran suntuk, stres beban pekerjaan dan capek, masih ditambah lagi dipancing oleh rengekan anak yang membikin tambah pening. Sisi memang salah, tapi bagaimanapun dia adalah balita yang belum bisa melihat realita. Sisi mungkin kemudian menurut dan diam tapi kita tidak pernah tau ada apa dibalik pikiran dan hatinya ketika itu. Anak bisa menyimpan dendam dan rekaman kejadian dalam alam bawah sadarnya, dan akumulasinya akan bermuara pada karakter, sikap, dan cara menyelesaikan masalah secara tidak tepat.
Yang perlu diperhatikan juga adalah kebiasaan dan cara pembantu, pengasuh atau baby sitter di rumah ketika orang tua sedang tidak berada di rumah, terutama para pengasuh yang kurang berpengalaman dan tidak mendapat pelatihan yang baik, sering memakai kata-kata bernada tinggi dan gertakan atau gerutuan ketika telah kehabisan cara dalam menghadapi anak yang rewel dan merengek atau ketika anak tidak berhenti menangis.
"Tapi aku nggak suka main piano yah..." Vino (11 tahun) memprotes keputusan ayahnya yang tiba-tiba telah mendaftarkannya ke sebuah les piano. "Vino, sini, dengarkan ayah, les piano bagus untuk Vino, anak-anak teman ayah juga banyak yang ikut les piano, dan mereka sekarang sudah bisa ikut festifal kemana-mana, ayah mau Vino seperti itu ya, ayah nggak mau dengar lagi, pokoknya Vino harus mau", kata ayah Vino memberi alasan.
"Tapi Vino kan sudah pernah bilang ke ayah, Vino kan pengen kursus karate yah... "
"Buat apa karate karate segala, nggak perlu itu"
"Tapi yah, aku nggak mau.."
"Vino!!..!, ayah sudah ambil keputusan, pokoknya tiap Selasa dan Kamis sore ayah akan antar kamu ke les piano, titik."
Setiap anak memiliki hak untuk ikut serta dalam menentukan keputusan yang menyangkut dirinya. Meski anak-anak adalah manusia baru, tetapi di sisi lain itu bukan berarti mereka tidak tahu apa-apa, mereka juga membutuhkan ekspresi pemikiran dan penyampaian pendapat. Anak-anak secara alamiah memiliki keinginan sendiri dalam hidupnya, mereka memiliki hidup dan dunianya. Sayangnya tanpa sadar kita sering menginginknan anak-anak menjadi apa yang kita mau karena ego kita, gengsi kita ketika melihat anak teman bisa melakukan banyak hal, dan berprestasi. Kita sering terjebak keinginan dan impian sendiri, dan celakanya lagi tanpa disadari anak kita menjadi sarana pemuas pencapaian keinginan kita demi kebanggaan dan gengsi.
Kalaupun mungkin keinginan anak tersebut benar-benar tidak tepat atau membahayakan dirinya maka bukan sebuah gertakan dan pemaksaan yang menjadi jawabannya. Anak yang pendiam, pemurung adalah indikasi kekerasan psikis yang berhubungan dengan emosi ini, pada tingkat yang lebih jauh anak akan menjadi seorang pemberontak bahkan demonstrator yaitu selalu menunjukkan penolakan dan konta pendapat dengan orang tuanya dalam rangka menunjukkan protes. Tapi bukannya simpatik yang didapat si anak, yang ada anak malah semakin berada dalam posisi dipersalahkan dan dianggap bandel. Kebanyakan orang tua tidak menyadari bahwa sikap memberontak anaknya itu adalah rangkaian dari kekecewaannya yang terdahulu.
Boni (8 tahun) dimarahi habis-habisan oleh ayahnya karena memecahkan vas bunga saat dia bermain bola di ruang tamu, begitu ayahnya tahu, tanpa dialog pembuka terlebih dahulu, , langsung saja berbagai kata kasar keluar dari emosi sang ayah. Boni hanya diam dan tertunduk, tapi tahukah sang ayah apa yang ada dalam pikiran Boni ketika dia tertunduk? Ketakutankah? Rasa dendamkah? Kebingungankah?
Lalu pelajaran apa yang didapat dari omelan itu, akankah mereka kemudian akan berbuat sopan dan disiplin? Ya, tapi disiplin yang muncul adalah disiplin karena rasa takut, bukan disiplin karena kesadaran dan pemahaman. Suatu ketika mereka berbuat kesalahan lagi dan tanpa adanya saksi yang melihat akankah mereka akan berani mengakui kesalahnnya?
"Aduh gimana nih aku nggak sengaja mecahin guci, aduh sebaiknya aku ngaku nggak ya? bilang nggak ya? ketahuan nggak ya? eemmm...dulu aja cuma mecahin vas dimarah-marahinin dan dihukum ayah sampai berhari-hari, ah mending diem aja ah, ngapain juga mengaku, ntar aku dimarahin lagi, biarin aja ah..." Itu adalah apa yang ada dalam pikiran Boni atau anak-anak lain sebagai efek trauma hukuman yang tidak tepat. Mereka akan belajar berbohong demi menyelamatkan diri, dan inilah pelajaran yang mereka petik itu, sebuah pelajaran yang sangat beresiko tinggi jika kelak terbawa hingga dewasa.
Anak-anak adalah manusia baru, jika mereka berbuat kesalahan bukan berarti mereka bodoh, tolol, atau tak tahu diri. Mereka butuh bimbingan untuk memilih cara yang tepat dalam menyelesaikan masalah. Berdialaog baik-baik, tentu dialog ini disesuaikan dengan usia anak, duduk bersama dan biarkan anak-anak menceritakan kejadian atau kesalahan yang baru dilakukannya. Poin pentingnya adalah hargai dan beri pujian ketika anak bisa menceritakan kesalahannya, besarkan hatinya ketika anak mau mengakui kesalahan, lalu stop mengungkit ungkit kesalahan anak yang sudah berlalu. Berikan konsekuensi yang tepat, mendidik serta tetap menempatkan anak dalam posisi yang terhormat, maksudnya bahwa konsekuensi atau hukuman yang diberikan jangan sampai menjatuhkan mental dan kepercayaan diri anak, seperti disuruh berdiri di halaman rumah, dikunci di luar rumah atau hukuman lain dengan cara yang memalukan. Bahkan hingga saat ini, di sekolah pun masih banyak penerapan hukuman yang membuat anak tersiksa secara psikis, dijemur di bawah terik matahari atau membersihkan kamar mandi, ketika dia tahu teman-temannya melihat dia dihukum dan teman-temannya pun menertawakannya maka hukuman itu akan menjadi luka hati yang parah dan berbekas dalam waktu lama.
Luka hati yang membekas lama juga sering dialami oleh anak yang sering dibanding-bandingkan dengan sepupu atau anak tetangga yang kebetulan berprestasi lebih bagus. " Tuh kan Alya aja selalu dapat rangking satu terus, kamu ini selalu bikin ibu malu, nilai apaan ini rangking sepuluh besar aja nggak pernah bisa, ah memang dasar kamu itu...." Demikian kalimat yang selalu di dengar Ani (12 tahun), kalimat yang selalu muncul dari mulut ibunya setiap kali penerimaan raport dan membandingkannya dengan Alya teman sekelasnya yang kebetulan rumahnya juga berdekatan.
Ani memang sedikit lambat dalam memahami pelajaran, bukan karena tidak mau belajar, tapi kemampuannya memang sebatas itu. Banyak anak yang seperti Ani, sedikit kurang beruntung karena kemampuan otak yang memang berbeda-beda pada tiap manusia, banyak faktor yang mempengaruhi, seperti gizi atau bisa jadi adalah kekurangan yang merupakan bawaan sejak lahir. Anak yang merasa gagal sebenarnya sudah tertekan dengan kegagalannya sendiri tapi masih ditambah lagi dengan penjatuhan mental yang merupakan pelapiasan kekecewaan dari orang tuanya, dengan penyebutan atau labelling misalnya dengan kata dasar malas atau anak bodoh. Labelling hanya akan menyebabkan perilaku dan sikap yang lebih parah, labelling bisa menimbulkan anggapan kepalang tanggung atau terlanjur basah, "toh aku sudah dijuluki anak bodoh ngapain juga aku belajar kan sama saja." Belum lagi timbul perasaan dendam dan kebencian yang tidak disadari tumbuh perlahan terhadap anak yang selalu dijadikan bahan perbandingan dengan dirinya. Ani tanpa sadar bisa menaruh kebencian kepada Alya, padahal Alya tidak bersalah.
Kemudian yang perlu selalu dipahami bahwa kita harus melihat anak dengan perspektif Multiple Intelligences, setiap anak selalu memiliki potensi kecerdasan masing-masing, termasuk di dalamnya antara lain kecerdasan musikal, spasial, interpersonal maupun intrapersonal. Multiple Intelligences ini sama sekali tidak diukur hanya sebatas melalui nilai raport.
Anak butuh support, dan bentuk support yang paling sederhana tapi membuat anak memiliki rasa percaya diri adalah pujian dan reward. Jangan pelit memberikan pujian kepada anak, sekalipun pencapaiannya belum maksimal, tapi berikan pujian atas usahanya. Lalu reward atau hadiah adalah sangat penting bagi anak, tentu disesuaikan sebatas pencapaiannya. Berbicara mengenai reward, kita sering lupa bahwa kebutuhan anak adalah disayangi dan wujud rasa sayang itu, bisa berupa pelukan, ciuman sayang, dan belaianpun bisa menjadi hadiah yang sangat berkesan bagi anak.
Kekerasan psikis tidak banyak kita sadari telah kita lakukan pada anak-anak kita, anak didik ataupun anak-anak disekitar kita. Sekali lagi harus dipahami anak adalah manusia baru yang masih belum banyak tahu apa-apa didalam kehidupannya, hal ini jarang disadari dan membuat kita terlalu berlebihan ketika mereka berbuat kesalahan. Anak anak belajar dari dunia di sekelilingnya, meniru, ikut-ikutan dan menjiplak apa yang dilihat dan didengarnya. Anak-anak betindak hanya berdasakan kesenangan, dan memang seperti itulah dunia anak-anak.
baca selengkapnya...
Anak Rewel Saat Masuk Sekolah Lagi
Demitria Budiningrum / Dimuat di Harian Jogja
"Aduh..., adek itu gimana sich.... Kemaren-kemaren udah nggak rewel masuk sekolah. Sekarang koq rewel lagi? Ibu khan harus segera masuk kerja. Nanti telat nich....! "
Gambaran di atas boleh jadi sedang atau sudah orangtua alami. Saat anak masuk sekolah lagi, merupakan saat yang berat bagi orangtua karena anak kemungkinan rewel saat masuk. Saat sulit ini dapat dimulai sejak bangun pagi, mulai dari sulit dibangunkan, tidak mau mandi dan sarapan, cari-cari alasan agar tidak berangkat, sampai di sekolah menangis, ngambeg, dan nggak mau ditinggal.
Sebenarnya ada apa sich dengan anak-anak? Kenapa ya, mereka sering begitu? Mereka khan sudah kenal dengan tempat dan orang yang ada di sekolah. Kenapa masih rewel? Mungkin pertanyaan-pertanyaan inilah yang muncul di benak orangtua melihat gambaran di atas. Orangtua atau orang dewasa kadangkala tidak dapat memahami hal-hal seperti ini.
Kalau kita cermati, kejadian atau gambaran tersebut merupakan suatu proses penyesuaian diri yang dilakukan oleh anak. Anak melakukan penyesuaian diri pada lingkungannya (sekolah). Sekolah, tetap menjadi lingkungan yang baru lagi, meskipun sebelumnya anak sudah enjoy di sekolah. Ketika libur, anak terbiasa atau menyesuaikan diri dengan situasi, kebiasaan, dan aturan saat libur. Situasi, kebiasaan, dan aturan di rumah saat libur, biasanya berbeda dengan saat sekolah. Saat libur, kemungkinan anak boleh tidur lebih larut, bangun lebih siang, boleh menonton TV lebih lama, tidak perlu menyiapkan pakaian untuk esok hari, dsb. Sementara, saat hari masuk sekolah, kemungkinan anak harus tidur lebih cepat, bangun lebih pagi, waktu menonton TV pendek, harus segera sarapan, sudah menyiapkan perlengkapan esok hari sejak malam, harus mengerjakan PR (jika sekolah sudah memberi PR), dsb.
Tiba di sekolah, anak juga mungkin sekali menemukan hal baru yang menuntut anak melakukan tindakan penyesuaian diri. Boleh jadi teman sekolah mengalami perubahan, guru kurang menyambut dengan hangat dan personal karena banyaknya anak yang didampingii, perubahan dekorasi sekolah dan ruang, dsb. Perubahan-perubahan yang terjadi di rumah maupun di sekolah inilah, yang dapat menyebabkan anak rewel lagi ketika masuk sekolah.
Lantas, apa yang dapat orangtua lakukan untuk mencegah rewel yang berkepanjangan saat anak masuk sekolah lagi? Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan orang dewasa:
* Persiapkan anak jauh hari sebelum masuk lagi. Penyesuaian diri sudah dimulai sejak anak menyadari bahwa ia akan segera masuk sekolah lagi. Jika kesadaran akan masuk sekolah lagi sudah ia dapat jauh hari sebelumnya, ia akan menysuaikan diri sejak jauh hari. Jika ia menyadari akan masuk sekolah lagi pada malam sebelum hari masuk, ia baru melakukan penyesuaian diri pada malam hari itu. Mulailah membicarakan berbagai topik terkait sekolah: guru, kegiatan bertemu teman lagi, rencana ketika bertemu teman dan guru, dsb
* Buat kesepakatan yang diperlukan bersama anak. Contoh: jadwal tidur, main, nonton TV, dsb.
* Orangtua ikut menunjukkan semangat untuk masuk sekolah lagi
* Luangkan waktu sedikit lebih lama di sekolah ketika mengantar anak. Jika orangtua kerja di kantor, usahakan minta ijin untuk kemungkinan datang terlambat. Hal ini perlu mengingat kemampuan tiap anak untuk menyesuaikan diri berbeda-beda. Ada anak yang cepat menyesuaikan diri, ada yang lebih lambat menyesuaikan.
* Guru menerima anak secara hangat dan personal
* Menanyakan atau meminta anak bercerita mengenai berbagai hal terkait pengalamannya di sekolah, setelah pulang.
Selain melakukan beberapa hal di atas, orangtua perlu menyadari bahwa anak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Orangtua perlu mendampingi anak untuk menyesuaikan diri. Usahakan tidak memaksa-maksa anak untuk segera menyesuaikan diri, karena akibatnya anak dapat stress dan proses penyesuaian diri menjadi lebih lama dan sulit.
Keberhasilan anak dalam menyesuaikan diri sangat berguna untuk kehidupannya. Di masa yang akan datang, anak akan hidup mandiri. Ia akan menemukan berbagai hal yang berbeda, yang membutuhkan kemampuan menyesuaikan diri. Inilah pentingnya orangtua mendampingi anak untuk menemukan cara-cara menyesuaikan diri yang tepat bagi anak. Selamat mendampingi anak!
baca selengkapnya...
Keinginan Anak VS Keinginan Orang Tua
Hasanah Safriyani, Psi / Dimuat di Harian Jogja
Bagi sebagian besar orang tua, pasti menyenangkan jika kesukaan atau keinginannya sama dengan kesukaan atau keinginan anaknya. Sayangnya, seringkali yang terjadi adalah sebaliknya. Yang disukai anak, justeru dilarang oleh orang tuanya. Sementara yang disukai orang tua, anak setengah mati menghindarinya. Kadang hal ini bisa memunculkan konflik antara orang tua dan anak.
Perbedaan kesukaan ini biasanya muncul dalam situasi yang menimbulkan pilihan, misalnya menentukan tujuan perjalanan, membeli barang, penggunaan alat. Bisa terjadi juga pada kegiatan harian seperti makan, waktu mandi, merapikan barang, dll. Lalu apa yang bisa dilakukan orang tua agar perbedaan kesukaan ini tidak menimbulkan konflik?
Mengapa anak dan orang tua bisa beda keinginan?
1. Selera setiap orang bisa berbeda. Kita punya hal-hal yang kita suka dan tidak suka, anak juga punya. Wajar jika kesukaan itu berbeda. Masalahnya bisakah kita sebagai orang dewasa menghargai selera anak?
2. Beda sudut pandang. Biasanya kita memandang dari sudut apa ketertiban, kebersihan, kepraktisan. Anak mungkin memandang dari sudut kesenangan, kemeriahan, kebanggaan. Misalnya kita lebih senang jika anak menyimpan hasil karyanya dengan rapi, tapi anak lebih senang membiarkannya bergelantungan karena ia bangga dengan itu.
3. Tahap perkembangan emosi anak: egosentris. Di usia awal, anak memandang dirinya sebagai pusat dari segala sesuatu. Anak mengira semua orang bisa mengerti dan sepakat dengan apa yang ia mau. Keterampilan empati anak belum berkembang dengan baik. Itu mengapa ia tidak mengerti mengapa kesukaannya menggambar di dinding membuat kita gerah.
Kapan perbedaan keinginan/kesukaan bisa menimbulkan konflik?
Konflik bisa terjadi kalau orang tua sama egosentrisnya dengan anak, sehingga memaksakan kehendaknya. Kadang anak sekedar dilarang ”tidak boleh berantakan! Tidak boleh corat coret tembok!” Tanpa solusi sehingga anak cenderung melakukannya lagi. Konflik bisa juga terjadi kalau anak mengalami hambatan untuk mengungkapkan keinginanannya, bisa karena ketrampilan komunikasi yang belum memadai atau karena tidak berani. Karena tidak mampu mengungkapkan apa yang menjadi maunya, anak bisa kesal dan kadang menimbulkan perilaku yang membuat kita semakin tidak jelas apa maunya. Sebaliknya, penjelasan dari orang tua yang kurang dimengerti anak juga bisa menjadi peluang munculnya konflik.
Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua?
1. Bicara dengan anak, bantu anak mengemukakan perasaannya. Sebaiknya kita berusaha mencari tahu mengapa anak senang dengan hal itu. Misalnya anak senang mencoret dinding karena penampangnya yang luas. Dengan begitu kita bisa menawarkan solusi yang pas. Jika perlu bantu anak untuk menjelaskan apa yang ia mau. Bisa mengemukakan ide merupakan salah satu keterampilan hidup yang penting.
2. Menjelaskan harapan kita -bukan mengatur - , lalu tawarkan solusi. Orang tua boleh menjelaskan apa yang disukai atau tidak disukainya, lalu setelah itu mencari jalan keluarnya bersama anak. Misalnya ”Ayah ingin dinding rumah kita ini bersih dari coretan, bagaimana kalau kita buatkan papan raksasa yang bisa kamu gambari?” . Kesalahan yang sering terjadi adalah orang tua langsung memberi tahu apa yang harus dilakukan anak, tanpa penjelasan. Akibatnya anak jadi tidak kooperatif, atau kooperatif tapi terpaksa.
3. Jika bukan masalah krusial, biarkan anak mendapatkan keinginannya. Kalau masalahnya hanya kita ingin anak memakai gaun pink tapi memilih baju biru, mengapa harus diributkan. Anak butuh ruang untuk mengekspresikan apa yang dia mau. Untuk itu jika hal yang tidak terlalu penting (tidak berakibat pada kesehatan, keamanan anak atau kenyamanan lingkungan) maka berikan kebebeasan anak untuk memilih yang disukainya. Pengalaman ini penting untuk membangun keterampilan anak dalam membuat keputusan (decision making) saat ia dewasa nanti. Anak yang terlalu diatur untuk hal-hal kecil, tidak mendapat cukup kesempatan untuk mengembangkan rasa percaya diri dan kemandirian, sehingga nanti untuk hal yang sekecil apapun dia akan bertanya dulu ke orang tuanya, tidak bisa memutuskan sendiri. Tentu kita tidak ingin anak kita seperti itu kan?
baca selengkapnya...
Toilet Training
Herlita Jayadiyanti / Dimuat di Harian Jogja
Memang repot ya kalau anak seusia Shinta belum bisa toilet training, apalagi kalau diajak bepergian atau harus melakukan perjalan yang jauh. Disekolahpun, apabila teman dan lingkungannya tidak siap atau belum bisa memahami kondisi Shinta bisa saja malah jadi bahan olok-olokkan, tapi harapan saya semoga itu tidak terjadi ya. Jangan khawatir pak, setiap masalah pasti ada solusinya dan tidak ada kata terlambat.
Faktor apa saja sih yang menyebabkan anak buang air besar dan kecil dicelana?
1. Terlalu lama menggunakan diapers
Anak-anak yang terus dipakaikan diapers tak akan pernah terlatih mengendalikan kapan saatnya BAB maupun BAK. Orang tua pun jadi sulit mengontrolnya.
2. Sering mendapat paksaan
Anak belum saatnya mau BAB tapi tetap dipaksa, hingga ia harus nongkrong sekian lama di pot/WC. Atau, anak dimarahi karena tak juga mengeluarkan feses/kotorannya. "Terlebih setelah anak bangkit dari pot atau keluar dari WC, hanya beberapa saat kemudian ternyata fesesnya keluar di celana, biasanya orang tua langsung hilang sabar hingga dimarahilah si anak," tutur psikolog pada Lembaga Psikologi Terapan UI ini.
Padahal, pemaksaan maupun kemarahan orang tua hanya akan menimbulkan pembangkangan dari anak. Salah satunya, sering BAB di celana tapi feses yang keluar cuma sedikit. "Hal ini terjadi lantaran anak menahan sekaligus mengeluarkan." Atau, ia malah sengaja menahan BAB-nya. Jadi, sekalipun ia ingin BAB, tapi akibat pemaksaan dan kemarahan tadi, malah sengaja enggak dikeluarkan.
Tentunya, dengan si kecil menahan BAB, bisa berakibat perutnya terasa penuh/kembung, hingga akhirnya ia jadi rewel. Dampak lain, senses atau kepekaannya jadi ikut terpengaruh. Artinya, ketika saat BAB benar-benar tiba, ia tak lagi peka merasakannya, hingga akhirnya malah kebablasan BAB di celana.
3. mencari perhatian
lantaran ia berharap orang tuanya mau memperhatikan dirinya. "Boleh jadi karena ada hal tertentu yang menyebabkan perhatian orang tua berpaling darinya seperti kelahiran adik." Nah, bila si kecil menjadikan kebiasaan jelek ini semata-mata untuk menarik perhatian, saran Mayke, orang tua sangat diharapkan tak menunjukkan sikap panik/heboh atau lebih meledak marah. Soalnya, cuma akan memancing si kecil untuk mempertahankan sikap negativistiknya (membangkang). "Namun bila kita bisa menahan diri, diharapkan anak pun bisa meredam sikap negativistiknya."
Apa yang bisa dilakukan orangtua untuk mengenalkan toilet training ?
1. Sediakan wadah atau tempat khusus
Jadi, kita bisa memulai pelatihan saat si kecil menunjukkan tanda-tanda ingin BAB, dengan menyediakan pot khusus untuk BAB agar ia merasa nyaman di situ. Ajak si kecil duduk di potnya sambil kita mengatakan, "Oh, Adek mau pup, ya? Yuk, duduk di pot!" Dengan begitu, si kecil jadi mengasosiasikan keinginannya untuk BAB dengan keharusan dari kita untuk duduk di pot tersebut. Ia akan menangkap, "Oh, kalau aku merasakan sakit perut seperti ini, berarti aku mau pup dan aku harus duduk di pot."
2. Yakinkan anak bahwa akan lebih nyaman buatnya jika buang air kecil dan buang air besar di toilet.
4. Jika anak tidak mau ke toilet karena alasan kotor, gelap atau jijik maka buatlah kamar mandi menjadi tempat yang menyenangkan untuknya. Pakailah lampu yang terang, cat tembok dengan warna cerah, kalau bisa beri gambar yang menarik dan usahakan kamar mandi selalu dalam keadaan bersih.
5. Temani anak pada saat buang air kecil atau besar, dan ajarkan menggunakan toilet juga cara membersihkan penis/ vagina serta duburnya.
6. Ingatkan anak agar segera pergi ke toilet bila dia merasa ingin buang air kecil / besar.
7. konsisten
Namun kita harus konsisten, lo. Artinya, tiap kali si kecil memperlihatkan tanda-tanda yang sama, kita mengajaknya duduk di potnya. Tentu seiring dengan meningkatnya usia, pelatihan BAB dari di pot dipindah ke WC. Hingga akhirnya si kecil tahu bahwa kalau mau BAB harus di tempatnya, bukan di celana. Ia pun jadi terlatih untuk mengendalikan kapan saatnya BAB.
8. peka terhadap kondisi anak
Jadi, tegas Mayke, kebiasaan batita yang suka menahan BAB ataupun yang mengeluarkannya sedikit demi sedikit, memang bergantung pada toilet training yang diberlakukan orang tua. Apalagi jika anak memang belum siap tapi orang tua terlalu menekankan toilet training yang berlebihan, tentu tak bisa diharapkan hasil yang positif. Misal, si kecil baru usia setahun tapi sudah dipaksakan duduk di kloset. "Secara fisiologis, kemampuan atau kematangan tubuh anak usia setahun, kan, belum mungkin untuk melakukannya."
Itu sebab, kita dituntut untuk mencermati mengapa si kecil suka menahan BAB, apakah lebih karena faktor fisiologis atau sebab lain? Bisa jadi, kan, si kecil kala itu pencernaannya sedang ada gangguan, hingga ia mengalami kesulitan BAB. Jadi, penyebabnya lebih karena faktor organis; ia mengalami konstipasi atau sembelit. Untuk mengatasinya tentu bukan dengan toilet training, tapi perhatikan makanan yang dikonsumsi si kecil. Artinya, penuhi semua kebutuhan zat makanan anak secara seimbang, terutama serat seperti sayur-sayuran dan buah-buahan yang bisa membantu melancarkan BAB. Namun bila keseimbangan zat makanan sudah terpenuhi, ternyata si kecil tetap mengalami gangguan, kita perlu introspeksi diri. "Perbaiki interaksi antara orang tua dan anak. Bila dirasa orang tua tak mampu melakukannya, tak ada salahnya minta bantuan pada para profesional."
9. tiap anak unik
Tak kalah penting, kita wajib melihat keunikan tiap anak. "Ada anak yang mudah sekali diatur, dalam arti beberapa kali latihan saja sudah bisa berjalan dengan lancar dan nyaris tak pernah mengalami 'kecelakaan'. Namun tak sedikit pula anak yang sulit dan mungkin butuh waktu berminggu-minggu untuk bisa menyesuaikan diri menghadapi perubahan sekaligus menyelesaikan tugas dengan baik," papar konsultan ahli psikologi anak di nakita ini.
Dengan menyadari perbedaan tersebut, kita jadi tak mudah putus asa ataupun menyalahkan si kecil kala ia tak kunjung bisa mengeluarkan fesesnya, melainkan "menghibur"nya, "Oh, pup-nya susah keluarnya, ya, Dek? Enggak apa-apa, kok. Nanti kita coba lagi, deh." Sedangkan bila di lain waktu ia berhasil seperti yang kita harapkan, "Jangan pelit untuk memberinya pujian."
Kapan anak siap mendapat toilet training ?
- Kebiasaan buang air besar sudah agak teratur.
- Popoknya tidak selalu basah, yang menanandakan bahwa kandung kemihnya telah dapat menyimpan urin.
- Si kecil sudah mulai mengikuti instruksi yang diberikan.
- Anak mulai memperlihatka ketertarikan untuk meniru anggota keluarga lain di kamar mandi.
- Melalui kata-kata, ekspresi wajah atau perubahan aktivitas, anak memberikan tanda kalau kandung kemihnya penuh atau ia ingin buang air besar.
baca selengkapnya...
Belajar di Kamar Tidur
Demitria Budiningrum
Kamar tidur, bagi sebagian keluarga menjadi tempat yang nyaman untuk digunakan. Nyaman agar dapat beristirahat tenang. Nyaman agar dapat tidur dengan lelap. Tidur menjadi saat yang dinanti-nanti unuk melepas lelah dan memulihkan tenaga setelah seharian bermain, belajar, atau pun bekerja. Seringkali kita malas bangun karena lelah belum hilang, cuaca sejuk, atau pun menikmati kebersamaan dengan keluarga.
Bagi sebagian keluarga yang lain, kamar tidur tak ada bedanya dengan ruang yang lain. Kamar tidur benar-benar hanya menjadi tempat istirahat sejenak, setelah kerja berat hari ini. Kamar tidur menjadi tempat yang biasa saja karena harus tidur berdesak-desakan dengan orangtua dan anak karena ruangnya kecil, tempat tidur kecil. Belum lagi tempat tidur yang kurang nyaman karena tidak beralas kasur, berbantal tumpukan kain, bahkan harus tidur di lantai karena tidak punya tempat tidur.
Bagaimanapun kondisinya, kamar tidur atau area tidur (karena tidak ada ruang khusus) dapat menjadi tempat belajar bagi anak. Apa benar? Umumnya orangtua tidak mengijinkan anak bermain-main atau belajar di kamar tidur. Kalau bermain di kamar tidur, yang dibayangkan adalah nanti kamar tidur jadi berantakan dan kotor. Kalau belajar di kamar tidur, nantinya anak pasti lebih banyak ngantuknya daripada belajarnya. Wah, bisa kacau!
Nah, bermain atau belajar seperti apa sih yang bisa dilakukan atau didapat anak di kamar tidur?
- Menyikat gigi, cuci kaki, buang air kecil sebelum tidur: membiasakan perilaku hidup sehat, sifat benda (cair-padat), disiplin, dsb.
- Mencermati kondisi tempat tidur: meraba permukaan tempat tidur, apakah terasa bersih atau ada kotoran. Hal ini dapat melatih kepekaan perabaan anak dan membedakan bersih-kotor dan kasar-halus.
- Memperhatikan kelengkapan perlengkapan tidur: anak diajak untuk melihat apakah perlengkapan tidurnya sudah lengkap atau belum. Misalnya: bantal, guling, selimut, dsb. Cara ini melatih anak untuk mempunyai keterampilan mengamati, identifikasi benda, dan tanggungjawab terhadap kebutuhan pribadi.
- Bercerita: dapat anak atau orangtua yang bercerita. Bercerita dapat memakai buku, dongeng, atau bercerita tentang kegiatan hari itu. Melalui kegiatan ini anak mengembangkan daya imajinasi, nilai-nilai kehidupan, keterampilan bercerita, kedekatan emosi dengan orangtua, dsb.
- Membereskan perlengkapan tidur: melalui kegiatan ini anak melatih kebiasaan hidup bersih, disiplin, keterampilan melipat selimut, penataan tempat bantal, guling, selimut (spasial)
- Menata letak: anak dapat dilibatkan dalam menata letak tempat tidur, meja, lemari, perabot lain di kamar tidur. Kegiatan ini dapat meningkatkan kecerdasan spasial, kekuatan lengan, keberanian mengungkapkan ide, kepercayaan diri, dsb.
Tentu masih banyak lagi kegiatan yang dapat dilakukan anak di kamar tidur. Orangtua dapat menemukan kegiatan lain yang memungkinkan anak terlibat di dalamnya.
Beberapa contoh kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang sederhana. Kegiatan di kamar tidur dapat berlangsung baik, tentu saja dengan kesadaran penuh dari orangtua bahwa anak berhak untuk terlibat dalam kegiatan di rumah, berhak berpendapat, dan diakui sebagai individu bukannya orang dewasa kecil. Sangat memungkinkan adanya diskusi, kesepakatan bersama, penyesuaian dengan kemampuan anak dan situasi tiap rumah.
Dapat kita lihat, ruang tidurpun dapat menjadi tempat belajar bagi anak. Ternyata, yang disebut guru itu tidak hanya orang yang mengajar di sekolah. Orangtua justru menjadi guru yang pertama dan utama bagi anak, melalui kegiatan ’sederhana’ dalam kehidupan sehari-hari.
baca selengkapnya...
Membantu Anak Mengatasi Rasa Malu
Herlitha Jayadiyanti / Dimuat di Harian Jogja
Pada umumnya anak akan senang sekali ketika diundang keacara ulang tahun, ntah itu ulang tahun teman sekolah atau teman sebaya yang ada dilingkungan rumahnya.
Namun ternyata, balon warna-warni, kue-kue enak, badut lucu, games seru, bingkisan menarik, musik yang ceria yang biasa dijumpai dipesta ulangtahun justru tidak dapat dinikmati samasekali oleh tata seorang anak yang memiliki sifat pemalu. Sepanjang pesta tata hanya bersembunyi dibalik punggung ibunya. Ketika diajak untuk tampil kedepan, dia malah gemetar, berkeringat lalu nangis minta pulang.semakin dipaksa tangisnya semakin keras. Kejadian ini tidak sekali dua kali saya jumpai tetapi beberapa kali, baik itu disekolah maupun dilingkungan tempat tinggal. Ada anak yang sangat menikmati keramaian dan orang yang baru dijumpainya, namun ada juga anak yang justru sangat tersiksa ketika berada ditempat ramai dan bertemu dengan orang-orang yang belum dikenalnya.anak seperti ini lalu sering disebut anak “pemalu”.
Penyebab anak jadi pemalu
Sebenarnya tidak ada anak yang dilahirkan pemalu. Sifat pemalu muncul karena lingkungan tempat dia belajar membentuknya jadi pemalu. Sifat pemalu ada sebabnya, dan diakui atau tidak sebab yang paling utama memunculkan sifat pemalu anak justru dari orangtua sendiri :
1. overprotective
Orang tua yang terlalu overprotective, justru tanpa disadari memupuk anak jadi pemalu. Anak yang terlalu banyak mendapatkan larangan ketika ingin mengeksplorasi sesuatu akan merasa tidak percaya diri, takut salah, dan menarik diri. Yang ada dalam pikiran anak adalah kalau orang tua saja tidak percaya dengan kemampuan saya, lalu bagaimana dengan orang lain. sehingga ada perasaan tidak nyaman ketika berada dilingkungan selain lingkungan rumah.
2. kurang stimulasi
dengan alasan keamanan atau agar kontrol dan pengawasan lebih mudah orang tua cenderung senang ketika anaknya main didalam rumah saja. Disatu sisi hal ini baik, namun dari sisi interaksi dan kecerdasan sosial, kebutuhan anak tidak terpenuhi. Akibatnya ketika bertemu dengan orang lain anak tidak tahu bagaimana caranya berinteraksi dan cenderung menarik diri.
3. Orang tua pemalu
Kalau orang tua ingin tahu mengapa anaknya ”begini” atau ”begitu” maka bercerminlah. Orangtua pemalu biasanya juga mempunyai anak yang pemalu. Orang tua adalah sumber belajar anak yang terdekat. Segala gerak gerik tingkah laku orangtua menjadi contoh yang akan ditiru oleh anak. Kalau anak melihat orangtuanya kurang percaya diri atau tidak suka berada ditempat ramai anakpun akan mencontoh hal yang sama. Kalau kita tidak percaya diri maka jangan berharap terlalu besar juga pada anak untuk percaya diri.
Sayangnya, orangtua kadang tidak sadar, mereka telah menciptakan suatu lingkungan yang membuat anaknya jadi pemalu. Anak belajar dari perlakuan yang ia terima, amati dan rasakan dari orangtuanya.
Namun bapak Ibu jangan khawatir, setiap masalah pasti ada solusinya bukan? Untuk mengatasi anak pemalu ada beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai orangtua atau orang dewasa yang berada disekitar anak. yang perlu diingat rasa ”malu” tidak perlu dihilangkan sama sekali, yang penting adalah mengurangi rasa malu agar tidak menghambat perkembangan, stimulasi, dan potensi yang dimiliki anak. Bagaimanapun rasa ”malu”itu perlu, bisa dibayangkan bagaimana jadinya hidup tanpa rasa ”malu” pasti juga tidak nyaman kan ?
Mengendalikan rasa malu pada anak
Latih dan latih
terus beri latihan dan stimulasi pada anak bagaimana menyesuaikan diri dengan lingkungan baik dari bahasa maupun sikap tubuh. Ajari anak bagaimana caranya menyapa orang yang baru dikenalnya, bagaimana cara meminta tolong, mengucapkan terimakasih, dll.
Jadi model/contoh
orangtua dengan rasa percaya diri, kemampuan berekspresi dan sosialisasi yang baik otomatis memberikan contoh pada anak bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain.
Hindari labelling
kata-kata yang melabel/mencap anak seperti ”dasar pemalu”,”kok adik pemalu”, ”pemalu amat sih”,justru membuat anak semakin menarik diri. Anak yang tadinya tidak pemalu dan sering mendapat ”cap” seperti ini pun bisa jadi pemalu, apalagi anak pemalu.
Ingatkan kelebihan
setiap anak punya keunikan sendiri-sendiri. Maka jelaskan keanak bahwa dia juga punya kelebihan yang tidak dimiliki teman lain, seperti ”senyum adik manis”, ”adik pasti disayang teman karena adikkan suka berbagi ” dll.hal-hal kecil seperti ini bisa menumbuhkan rasa percaya diri anak untuk berinteraksi dengan orang lain.
Tidak memaksa
lakukan bertahap dan tidak memaksa. Ketika anak belum mau tampil didepan pesta ulangtahun temannya maka biarkan anak mengamati dulu. Tindakan memaksa justru akan membuat perasaan anak semakin tidak nyaman.
Biarkan anak mengambil keputusan
rasa percaya diri bisa dimunculkan dengan memberikan ruang pada anak untuk menentukan sendiri apa yang jadi keinginannya misalnya : biarkan anak memilih sendiri pakaian yang ingin dikenakan pada pesta ulangtahun temannya. Bisa jadi anak jadi tidak PD atau malu karena pakaian yang dipilihkan orangtua tidak nyaman buat anak.
kenalkan anak dengan lingkungan dan kelompok yang berbeda-beda agar anak tidak canggung ketika menghadapi orang yang baru dijumpainya.
Beri perhatian dan dorongan
terus beri perhatian dan dorongan pentingnya punya banyak teman.
Beri reward
ketika anak berhasil mengatasi rasa malunya beri pujian dan dukungan seperti ” mama senang sekali kamu mau menyapa temanmu”.
Bagaimanapun dalam hidup, anak akan selalu berhadapan dengan orang lain, Kalau hal-hal diatas dilakukan terus-menerus/konsisten lama-lama anak akan bisa mengatasi rasa malunya. Karena menjadi pemalu itu lebih karena sikap bukan kepribadian.yang penting dukungan dan perhatian serta contoh dari orang-orang terdekat, siapa lagi kalau bukan orangtua. selamat mendampingi putra-putri tercinta ya bapak ibu.
baca selengkapnya...
