Tampilkan postingan dengan label Artikel / Tips 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel / Tips 5. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Juli 2010

Nonton TV Bikin Cerdas

Indriasari Oktaviani ( kepala Sekolah ECCD-RC Jogja )

Apa dulu programnya…….
Tidak selamanya acara menonton tv berbahaya untuk anak. Daniel Anderson, PhD (prof psikologi) mengatakan bahwa jangan buat televisi sebagai “musuh” dirumah, melainkan jadikan televisi sebagai “teman” yang memerlukan peraturan untuk mengontrolnya agar tidak menjadi pengaruh buruk untuk anak.

Rambu-rambu menonton TV….
• <2 tahun, biasanya proses belajarnya adalah dari interaksi dengan ornag disekitarnya, maka untuk menonton TV sebaiknya memilih tayangan yang bermanfaat untuk kesehariannya. Sebisa mungkin hindari anak menonton iklan.
• >2 tahun, disarankan untuk memilihkan tayangan yang mendidik. Kisaran jam tayang 1-2 jam saja. Orang tua bisa melihat logo dilayar TV program ini untuk semua umur atau bimbingan ortu. Hindari meletakkan TV di kamar anak atau ruangan yang privat. Dan mulai biasakan dengan aturan kapan waktu menonton TV.
• Sekalipun logo tayangan untuk anak, orang tua wajib mendampingi selama anak menonton. Harapannya orang tua dapat menjelaskan adegan yang dianggap membingungkan atau sekiranya negative untuk si anak.
• Berhati-hati dengan tayangan yang bersifat realita, karena seringkali tidak cocok untuk anak (dilebih-lebihkan)
• Berhati-hati dengan tayangan yang bersifat gender, rasialis misalnya : perempuan cenderung lemah, laki-laki berkuasa boleh marah-marah bahkan memukul, dll , jika ada segera klarifikasi bahwa itu hanya ada di film berbeda dengan di sekitar kita.
• Buat kesepakatan mana tayangan yang boleh ditonton dan mana yang tidak, berikan penjelasan sederhana kepada si anak agar anak mengerti alasannya.
• Hindari menonton IKLAN.
• Siapkan kegiatan alternative atau tayangan alternative, misalnya : VCD/DVD documenter, atau kegiatan berlibur ke rumah nenek/temannya, membuat karya dari kardus, menggambar/melukis,dll
• Jadilah orang tua yang “melek media”, coba kritisi tayangan yang membahayakan kepada pihak terkait atau melalui surat pembaca.

Katakan TIDAk untuk tayangan :
1. Berisi kekerasan, tayangan berisi kekerasan terbukti membuat anak ketakutan atau merasa tidak aman. Bisa saja justru sebaliknya, si anak menjadi sangat agresif.
2. Bermuatan seks, penelitian menunjukkan anak yang mengetahui seks dari TV lebih cepat melakukan hubungan seks dibanding didapat dari orang yang tepat (orang tua, guru).

Daftar Tayangan yang AMAN untuk Anak :
• Curious George ● Cita-citaku
• Conch Bay ● Koki Cilik
• Pororo The Little Penguin ● Dunia Air
• Star Kids Ya Iyalah ● Si Bolang
• Laptop Si Unyil ● Buku Harian Si Unyil
• Jalan sesame ● Dora The Eksplorer
• Backyardigan ● Go diego Go

Daftar Tayangan yang HATI-HATI untuk Anak :
• Casper scare School ● Doraemon
• Transformer Galaxy Force ● Digimon savers
• Pokemon 7 ● Bakugan Battle Brawlers
• Power Rangers ● Ben 10
• Power Puff Girl ● Scooby Doo
• Spongebob Squarepants ● Avatar

Daftar Tayangan yang BAHAYA untuk anak :
• Crayon Shinchan ● Super Rangers
• Dragon Ball Z ● Naruto Shippuden
• Bleach 2 ● Tom & Jerry

Sumber : Seminar & Lokakarya “Rumah & Sekolahku Melek Media” (ECCD-RC Jogja, 2010)
Kidia , Daftar tayangan per 2009 baca selengkapnya...

Kamis, 10 Juni 2010

Lebih senang bergaul dengan orang dewasa

Herlita Jayadianti
Koordinator Divisi Media Kampanye ECCD-RC/harian Jogja April 2010


Penting bagi anak untuk belajar bersosialisasi dengan lingkungan sebayanya. Seperti diketahui, selain faktor genetik atau keturunan, lingkungan juga merupakan faktor yang amat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak. Pergaulan anak dengan lingkungan sebaya juga bertujuan menumbuhkan rasa percaya pada orang lain dan bisa saling berbagi. Berbagi juga erat hubungannya dengan persahabatan, berteman, maupun menunggu giliran. Sayangnya kondisi ideal ini tidak serta merta dapat terwujud. Beberapa anak ternyata lebih senang atau kalau boleh dikatakan tidak ada pilihan untuk hanya bergaul dengan orang dewasa saja. Apakah lalu ini jadi masalah...?? Jika orang dewasanya baik-baik semua, tentu saja tidak jadi soal. Justru yang dikhawatirkan bila si kecil bergaul dengan orang dewasa yang berperilaku tidak baik seperti merokok atau omong kasar/kotor, karena dampaknya akan lebih negatif buat anak, karena orang dewasa umumnya jadi model buat anak hingga perilakunya bagaikan contoh konkret untuk ditiru, lalu adakah dampaknya? Dan bagaimana solusinya? Berikut uraiannya

Apa saja faktor yang menyebabkan anak senang bergaul dengan orang dewasa ?
- Ada hambatan pada anak. Hambatan bisa bermacam-macam entah cacat fisik seperti tuli atau mengalami keterbelakangan mental. Dalam kasus seperti ini, banyak orang tua yang malah "mengurung" anaknya di rumah atau tidak mengizinkan anak main di luar rumah. Alasannya beragam selain keamanan juga khawatir kalau anak jadi bahan ejekan teman-teman sebaya.
- Anak dilarang bergaul karena ada perbedaan status sosial ekonomi dengan lingkungan sekitar. Tidak jarang, orang tua dengan status sosial ekonomi lebih tinggi melarang anaknya bergaul dengan tetangga sekitar. Dianggapnya, pergaulan anak "kampung" tidak baik hingga takut anaknya terpengaruh. Tentu saja, pelarangan ini cuma akan menjauhkan anak dari lingkungannya hingga lebih memilih bermain dengan orang dewasa, karena anak merasa hal itulah yang mungkin.
- Orang tua mengkondisikan anak untuk selalu bergaul dengan orang dewasa. Sejak kecil, orang tua tidak membiasakan anak bergaul dengan teman sebayanya, tapi justru lebih sering mengikutsertakan anak dalam pergaulannya atau lingkungan dewasa. Hingga, tanpa sadar berarti sudah mengkondisikan anak pada lingkungan dewasa tersebut. Terlebih jika orang tua pun lupa untuk juga memberi anak kesempatan bertemu dengan teman-teman sebayanya.
- Lingkungan sekitar rumah tak ada anak kecil sebaya. Ada, kan, lingkungan yang tidak ada anak kecilnya? Biasanya dapat kita jumpai pada kompleks perumahan lama yang sudah stabil hingga kebanyakan penghuninya orang-orang yang sudah tua. Jikapun ada anak, sudah besar-besar semua. Nah, bila orang tua tinggal di lingkungan seperti ini, tentu tidak memungkinkan anak bergaul dengan teman sebaya, kecuali jika orang tua mencarikan alternatif buat anaknya.

Dampak yang bisa diperoleh anak saat bergaul dengan orang dewasa

Dampak positif
- Anak akan lebih cepat mengerti dalam hal-hal tertentu dibanding teman sebayanya, Misal, si kecil sering bergaul dengan orang dewasa yang hobi komputer, mungkin ia akan bisa lebih cepat tahu segala sesuatu yang berhubungan dengan komputer dibanding teman sebayanya yang tidak bermain seperti itu.

Dampak negatif
- Anak jadi lebih matang. Namun matang di sini bukan berarti ia jadi mandiri, melainkan lebih terbiasa atau lebih cepat mengerti obrolan-obrolan orang dewasa. Akibatnya anak jadi sulit masuk ke lingkungan teman-teman sebayanya. Pasalnya, frame yang terdapat di kepala si kecil hampir layaknya orang dewasa. Hingga, kala berhadapan dengan teman-teman sebayanya, ia merasa asing. Sebaliknya, teman-temannya pun akan merasa asing dengan kehadirannya. Hingga, bisa terjadi mereka akan terbengong-bengong ketika si kecil tengah membicarakan sesuatu yang belum terjangkau oleh wawasan teman-temannya. Jika sudah begitu, kasihan si kecil, kan? Bisa-bisa ia tak ada temannya.
- Anak meniru tingkah laku orang dewasa yang tidak baik seperti merokok atau berbicara kasar. Anak juga secara tidak langsung bisa mengakses fasilitas orang dewasa seperti film atau buku-buku dewasa. Tentunya ini bisa terjadi jika tanpa pengawasan atau pendampingan dari orang dewasa.

Solusi agar anak tidak terlalu banyak bergaul dengan orang dewasa

- Carikan teman sebaya dan dorong si kecil untuk bergaul dengan mereka. Jika di lingkungan sekitar rumah tidak ada teman sebaya atau sangat kurang kesempatannya untuk bersosialisasi, orang tua harus aktif mencari tahu tempat-tempat kegiatan untuk anak seusianya. Entah di sanggar balita semacam sanggar melukis, menari, menyanyi, dan lainnya maupun di kegiatan keagamaan seperti sekolah Minggu atau Taman Pendidikan Al Qur'an, dan sebagainya. Dengan begitu, si kecil bisa punya banyak teman sebaya.
- Orangtua harus berani untuk mengurangi kegiatan anak bersama orang dewasa, tapi tidak secara drastis tentu. Melarang anak tentu tidak boleh terlalu keras. apa yang kita larang malah semakin dilakukan oleh anak. Selain itu, dalam melarang pun kita perlu menjelaskan dengan jujur alasannya. Misal, merokok dan omong kasar merupakan perilaku buruk hingga tidak boleh ditiru. Jika si kecil protes, jelaskan saja dampaknya bahwa merokok berbahaya bagi kesehatan.
- anjurkan anak untuk mencari teman main lain atau kenalkan si kecil pada teman sebayanya yang menurut kita baik untuknya sebagi teman bermain. Kemudian, saat si kecil bermain di rumah temannya itu, sempatkan waktu untuk memastikan mereka bermain dengan cara wajar sebagaimana yang dilakukan anak-anak lain sebaya mereka.


semoga bermanfaat
baca selengkapnya...

Televisi & Diskriminasi

Endang Retna Widuri ( Koordinator training ECCD-RC Jogja )

Diakui atau tidak kenyataan yang ada saat ini, banyak tayangan TV baik di sinetron, komedi situasi, reality show, musik , yang penuh dengan diskriminasi. Diskriminasi yang nampak dalam tayangan TV antara lain :

Diskriminasi fisik: orang gemuk identik dengan suka makan , tidak pernah olahraga, malas, galak dan judes, cerewet, (seperti bu RT dalam suami-suami takut istri, saodah dalam OB). Kemudian pencitraan orang cantik adalah yang kulitnya putih, rambut panjang dan lurus, langsing.
Orang yang pakai kacamata, lugu, identik dengan orang yang kuper, kutu buku, bahkan kadang identik dengan anak yang selalu dihina dengan sebutan tolol (kacamata besar)
Orang yang berkebutuhan khusus seperti : pincang, tunanetra, selalu diejek, tersingkir, dianggap mengganggu.

Diskriminasi budaya: Orang padang selalu identik dengan pelit, orang jawa identik dengan bahasa / logat yang medok dan terlihat begitu kampungan saat datang ke kota, orang Sumatra galak, orang cina pasti pelit, dll
Diskriminasi gender: anak cewek identik hanya boleh mainan boneka atau masak-masakan, sedangkan laki-laki identik harus main pistol-pistolan, mobil-mobilan atau main bola.

Diskriminasi ekonomi :anak pembantu (identik miskin, bajunya jelek) selalu sengsara > disia-sia. Tapi anak yang kaya, selalu punya banyak teman, apalagi yang bajunya bagus. Kemudian anak tiri identik dengan siksaan, disuruh-suruh terus.
Beberapa contoh diatas adalah kejadian yang sering bahkan selalu muncul di tayangan TV. Hal ini tentu saja dapat berdampak tidak baik untuk anak apalagi jika tanpa pendampingan.

Apa saja dampaknya untuk anak ?

Karena anak masih dalam tahap meniru maka apa yang dia lihat dan dia dengar akan dikuti. Misalnya: anak ikut-ikutan mengejak anak yang berkebutuhan khusus tadi, anak bisa saja meniru adegan “menghina orang yang kurang beruntung. memaki, menyuruh teman yang lebih miskin dari dia”
Selain itu, anak bisa saja menganggap bahwa yang di TV itu selalu benar, yang akhirnya dapat membentuk pola pikir anak. Bahwa temannya yang pakai kacamata adalah teman yang kuper, tolol, dan bisa dikerjain. Lalu mengejek teman cowok yang sedang main masak-masakan, mengejek anak yang kebetulan posisi dia adalah sebagai anak tiri. Menganggap teman nya yang gemuk sebagai orang yang doyan makan apa saja.
Untuk anak yang berada di stereotype yang selalu dicitrakan baik terus, misalnya cantik itu identik dengan kulit putih, rambut lurus, langsing, bisa membuat anak ini sombong….dan hal yang paling buruk, si anak ini akan menganggap teman yang kriting, kulit hitam dan gemuk itu tidak cantik, tapi jelek.
Untuk anak yang berada di stereotype yang dirugikan, seperti gemuk, hitam, keriting, dan berkebutuhan khusus, atau dia adalah etnis tertentu, akan membuat anak tersebut minder. Dia merasa jelek, dan pasti tidak akan ada teman yang mau berteman dengannya.
Anak yang terobsesi untuk menjadi yang cantik sesuai pencitraan tv bisa melakukan berbagai hal untuk mewujudkan obsesinya itu. Misalnya anak tidak mau banyak makan dan minum susu,karena takut gemuk. Anak lalu minta direbonding biar rambutnya lurus, dll. Apabila ini dilakukan oleh anak, tentu saja akan memperngaruhi proses perkembangan si anak.

Apa yang bisa dilakukan orangtua..?

Yang pasti, saat anak nonton TV, dampingi dan ajak diskusi. Diskusi bisa dimulai dengan pertanyaan “ bagaimana pendapatmu? Apakah benar orang yang gemuk itu selalu galak, banyak bicara ?" ajak anak berdiskusi bahwa ada orang yang badannya besar tapi hatinya baik/lembut. Ada juga orang gemuk yang tetap rajin olah raga, dan tentu saja berprestasi. Lalu orang batak belum tentu semua berwatak kasar, orang padang belum tentu juga pelit. Ada juga orang yang keriting, kuit hitam dan badannya besar juga punya prestasi dan banyak teman bahkan justru bisa melebihi prestasi orang yang berkulit putih rambut lurus dan langsing. Lalu, belum tentu juga anak pembantu itu bodoh, dan disia-sia.. Mereka juga berhak punya teman banyak, dan banyak juga dari mereka yang berprestasi. Kemudian saudara tiri juga tidak semua jahat seperti yang digambarkan di bawang merah bawang putih.
Karena tahap berfikir anak baru pada tahap berfikir konkret dan belum bisa berfikir secara abstrak maka jika anak dihadapkan pada contoh langsung itu lebih baik misalnya : kebetulan si anak berambut keriting, dan kulitnya gelap. “ menurutmu, apakah kamu jelek?” . anak diajak untuk menyampaikan kekuatan-kekuatan dia. Sehingga anak tahu bahwa dia ternyata juga bisa menjadi anak yang hebat dan banyak teman yang suka dengan dia, dll. Katakan ke anak bahwa tayangan di TV itu hanyalah dibuat. Ada skenarionya. Jadi belum tentu semua benar.

Tips Apa yang harus dilakukan orang tua untuk kebaikan anak terkait dengan Tayangan TV dan diskriminasi ini?

Orang tua harus tahu, jadwal acara TV (baik acara dewasa maupun anak). Walaupun tidak pernah mengikuti, tapi paling tidak harus tahu resensi dari acara tersebut, jadi bisa memilih/mengatur, acara mana yang sebaiknya didampingi, boleh ditonton tanpa didampingi, dan mana yang tidak boleh ditonton oleh anak
Buat jadwal menonton TV dengan anak. Misal setiap acara apa, jam berapa, atau berapa lama.

Beri kepercayaan ke anak, bahwa anak hanya akan nonton TV sendiri, untuk tayangan yang memang sudah disepakati. ini melatih kejujuran anak. selalu usahakan ada komunikasi setiap hari misalnya sebelum tidur seperti ” hari ini adek nonton acara apa?” lalu diskusikan.

Kalaupun orang tua benar-benar tidak bisa mendampingi anak (untuk acara yang disepakati harus didampingi) tawarkan alternatifnya pertama, tidak nonton (dengan catatan orang tua memberi alternative kegiatan lain) atau kedua tetap nonton tapi dengan didampingi oranglain misalnya pengasuh. Beri pengertian / pijakan ke pengasuh apa yang harus dilakukan saat menemani anak nonton. Setelah itu, pengasuh wajib diminta menceritakan apa yang sudah dilakukan dengan anak. Minta juga anak untuk membuat laporan, bisa cerita atau gambar, setelah dia selesai nonton dan berikutnya akan dibahas bersama.

Letakkan TV diruang keluarga sehingga mudah dalam pengawasan dan pendampingan.
Sekali-kali, ajak anak untuk membuat skenario sesuai dengan apa yang dia harapkan. misalnya kalau yang di TV menurut anak tidak baik, ajak anak untuk membuat skenario dengan karakter yang baik, yang wajar dan tidak berlebihan.

Memang terlihat tidak mudah, tapi agar tayangan di TV tidak mempengaruhi pola pikir anak khususnya dengan berbagai diskriminasi yang ada didalamnya, ya inilah yang harus kita lakukan. Karena anak masih harus dibantu untuk mengkritisi tayangan di TV.
Semoga bermanfaat.
baca selengkapnya...

Pengaruh Iklan TV Terhadap Perkembangan Anak

Herlita jayadianti
Koordinator media kampanye ECCD-RC/Dimuat di Harian Jogja Mei 2010

Diakui atau tidak faktanya sekarang ini, banyak terjadi penyalahgunaan yang terjadi dalam dunia pariwara. Dengan menghalalkan segala cara iklan-iklan pada TV dibuat dan disampaikan secara berlebihan dan tidak jujur, menyesatkan, jauh dari hakekat peranan iklan sebenarnya. Tampilan iklan-iklan terkesan hanya memunculkan sisi kelebihan untuk menjaring keuntungan sebesar-besarnya (profit oriented) dan menutupi kenyataan keburukan dari suatu produk yang sebenarnya ada (non konsumen oriented) pada sisi lainnya. iklan yang banyak kita jumpai di TV saat ini memang terlihat lebih mementingkan sisi komersial semata tanpa memikirkan sisi edukasinya. Di Negara Eropa dan Amerika Iklan yang ditayangkan di Televisi sudah dengan aturan yang “ramah” anak. Di Eropa iklan hanya boleh tayang 15 menit sebelum dan setelah acara anak. Artinya acara anak steril dari tayangan iklan. Di Amerika iklan harus mengajak anak untuk sadar gizi. Tidak ada iklan yang menyampaikan informasi pada anak bahwa permen A setara dengan 6 gelas susu atau jika kamu makan biscuit B kamu bisa kuat dan berenergi. Di Eropa dan Amerika Iklan juga harus bergandengan dengan perilaku hidup bersih sehat seperti setelah iklan permen pasti ada iklan pasta gigi dst. Beda sekali kan dengan iklan yang saat ini wara wiri di televisi kita……

Kenapa sih anak tertarik dengan iklan…????

Anak tertarik dengan iklan karena mereka memang senang dan mudah dipengaruhi oleh komunikasi yang bersifat satu arah, yaitu oleh ucapan, dari janji dan gambar menarik yang disampaikan. Hal ini kontras dibandingkan orang dewasa yang lebih memilih memindahkan channel, rehat sementara atau tidak memperhatikan sama sekali sampai info komersial itu selesai.

Anak-anak adalah teman karib pemasang iklan. Mereka (para pemasang iklan) tahu persis, iklan di TV lebih efektif ketimbang di media lain. Meski anak usia ini dapat membedakan antara iklan dengan program lain di TV, tapi anak belum sepenuhnya dapat memahami makna iklan.

Lalu apa dampak negatifnya bagi perkembangan anak…???

Berfikir secara instant
Tayangan iklan dapat menyebabkan anak lebih cenderung berpikir instant. Dalam arti, segala sesuatu kebutuhan dipikirkan oleh anak dapat dengan mudah dimiliki atau diketahui, tanpa ada usaha untuk mendapatkannya. Misalnya untuk bisa jadi kuat dan jadi pemain sepakbola yang hebat kita cukup minum atau makan produk tertentu tanpa kerja keras atau usaha.

Pengaruh pada perilaku
Anak usia dini kan berfikirnya masih secara konkret belum bisa berfikir secara abstrak jadi apa yang dia lihat itu yang akan dia tangkap dan ditiru. Karena berfikirnya masih konkret maka anak juga masih menghadapi kesulitan dalam membedakan antara fantasi dan kenyataan, Iklan yang berisi khayalan aksi heroik dapat maka secara langsung ditiru oleh anak tanpa memikirkan resikonya. Iklan TV juga dapat dianggap anak sebagai panutan melebihi orang tuanya sendiri. Akibatnya perkembangan kejiwaan anak bisa terganggu, terutama perilaku yang berubah menjadi lebih agresif, non kooperatif dan penurunan intelektualitas.

Apa yang bisa dilakukan orangtua ..????

Beri arahan
Iklan maupun acara TV tidak selamanya mengandung unsur negatif. Ada banyak juga manfaat atau esensi positif didalamnya disinilah orang tua berperan untuk mengarahkan dan memberikan bimbingan. Arahkan anak untuk membentuk persepsi yang benar terhadap suatu iklan. Misalnya : orangtua bisa menjelaskan tentang kesetaraan gender melalui iklan pasta gigi yang menampilkan anak perempuan sedang membantu ayahnya memperbaiki mobil digarasi.

Beri perhatian
Perhatian yang kita berikan secara tidak langsung bisa mengalihkan anak dari kebiasaan nonton TV. Dengan melakukan banyak aktifitas anak tidak hanya terfokus pada fantasi dan pengaruh iklan. Perhatian yang diberikan bisa dalam bentuk yang sangat sederhana seperti membacakan buku cerita, bermain bersama, atau bercerita. Karena secara umum anak lebih senang belajar dengan melakukan berbagai hal ( aktif ) baik sendiri maupun berkelompok apalagi jika itu dilakukan bersama orangtuanya.

Buat aturan dan kesepakatan
Tayangan iklan di TV memang memiliki daya tarik tersendiri bagi anak, sehingga ia tergiur untuk memiliki/membeli suatu produk yang diiklankan. Kita sebagai orangtua dapat mengurangi daya tarik iklan di TV dengan mengajarkan anak untuk mengecilkan volume TV sampai nol setiap kali iklan muncul. Kita juga perlu mengajarkan anak untuk "melek iklan" dengan membantunya memilih produk yang benar-benar dibutuhkan dan menjelaskan bagaimana sebuah iklan dibuat sehingga memikat orang untuk membelinya. Semoga bermanfaat.
baca selengkapnya...

Tiada Hari Tanpa Konflik

Herlita jayadianti
Koordinator media kampanye ECCD-RC/dimuat di harian jogja Mei 2010


Kemampuan untuk menyelesaikan konflik sebaiknya memang dikenalkan dan dilakukan sejak dini agar setelah besar anak terlatih untuk menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Sebab, melatih anak menyelesaikan konflik berarti juga melatih anak mengontrol kemarahan dan emosinya. Bukankah kekerasan terjadi lantaran orang tidak bisa mengendalikan amarah dan emosinya? Tapi tentu ini bukan sesuatu yang mudah Terlebih lagi ciri anak-anak adalah kepolosan. Kalau mereka mau marah, ya, marah saja, tidak perlu menunggu atau menundanya alias tidak perlu kontrol diri segala. Hal ini disebabkan mereka belum tahu aturan main dalam kehidupan.

Kalau dibiarkan apakah ada dampaknya ?

bisa mengganggu hubungan sosial
Bila sejak dini anak tidak pernah diajarkan mengatasi konflik, dia bisa kehilangan teman, lho. Ya siapa sih yang mau berteman dengan anak yang suka buat gara-gara atau sulit bersosialisasi....

terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan.
Anak belajar dari mencoba dan mengamati. Jika sekali dilakukan dan berhasil maka besok akan dicoba lagi. Jika hari ini keinginan dicapai dengan konflik dan berhasil maka jangan heran kalau besok cara ini akan dipakai lagi dst. Anak akan terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan karena memang hanya cara ini yang dia tahu.

Mengganggu perkembangan konsep diri
Kalau sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit konflik/buat gara-gara bisa saja lalu anak diberi label oleh teman-temannya, entah sebagai si pemarah atau si brengsek, dan sebagainya. Kalau sudah begitu, akhirnya akan mengganggu perkembangan konsep dirinya. Bisa-bisa anak akan bersikap, kalau aku enggak marah maka bukan aku lagi.

Bagaimana sebaiknya orangtua bersikap ?

Ajak komunikasi dan jelaskan etika Bergaul
Jadi, Bu-Pak, betapa penting mengajari anak mengatasi maupun menghindari konflik. Kendatipun tidak mudah, namun percayalah, kita pasti bisa melakukannya. Caranya dengan mengajak anak berdialog. Bukankah di usia prasekolah anak sudah bisa diajak berdialog? Jelaskan pada anak tentang etika bergaul seperti bagaimana akibatnya jika mereka selalu berebut dan tidak mau berbagi, apalagi sampai bertengkar dan memukul, Ajarkan pula untuk bertenggang rasa dan berempati pada perasaan orang lain, juga pentingnya sikap saling memaafkan.

Beri contoh
Tapi tentu tidak cukup hanya bila dilakukan lewat dialog karena untuk mengajarkan sesuatu pada anak akan lebih efektif bila dilakukan juga lewat contoh sehari-hari dari orang tua. Orang tua tentunya pasti pernah bertengkar atau berargumentasi di depan anak-anak, kan? Nah, pastikan anak-anak melihat kedua orang tuanya saling meminta maaf dan saling memperbaiki diri seusai bertengkar.Jangan lupa untuk selalu mengajari anak-anak meminta maaf dan berdamai seusai bertengkar.

Lakukan dengan cara yang menyenangkan
Disamping itu, media bantu seperti buku-buku cerita atau film yang memperlihatkan nilai-nilai tersebut juga akan sangat membantu dalam mengajarkan nilai-nilai kebaikan pada anak.ya lakukan dengan cara-cara yang menyenangkan ( bermain ), metode ceramah sama sekali tidak akan efektif apalagi untuk anak usia dini.

Latih anak memecahkan masalah
Selanjutnya, yang harus kita lakukan ialah melatih anak memecahkan masalahnya sendiri. Jadi, bila anak-anak sedang bertengkar, biarkan saja dulu, tidak perlu tergesa-gesa mencampuri urusan mereka. Barulah jika pertengkaran itu sudah mengarah ke hal-hal yang membahayakan, orang tua harus segera menghentikannya. Saat menengahi pun kita tidak perlu buru-buru memberikan jalan keluar. Tanyakan dulu keduanya, apa yang kalian ributkan? Jadi orang tua masuk dan mereka diajak diskusi agar lebih tenang dan tidak main mulut begitu saja.Setelah salah satu bercerita, tanyai lagi lainnya, apakah itu benar? Dengan demikian mencegah mereka menjadi pengadu." Lantas, tanyai, apa yang bisa mereka lakukan untuk menyelesaikan konflik. Tentunya masing-masing akan mengemukakan argumennya. Nah, saat itulah kita harus menunjukkan bagaimana bisa menyelesaikan konflik meski berbeda sudut pandang, Kalau menurutmu, mungkin pendapatmu itu yang benar. Tapi coba kita lihat dari pendapat temanmu.Misalnya, mereka berebut main di ayunan taman yang menjadi milik umum. Jelaskan, Barang ini memang milik orang banyak. Jadi, semua orang boleh memakainya, baik kamu maupun temanmu. Nah, karena semua orang boleh pakai, maka berarti ini bukan milikmu sendiri, kamu tidak boleh pegang terus mainan ini. Temanmu pun harus mendapat giliran pakai, kan?

Arahkan emosi anak
Bila anak masih tidak bisa mengontrol emosinya, bimbinglah ia untuk mengarahkan emosinya. Katakan, misalnya, ”Bunda mengerti Kakak marah karena Tati terus memainkan ayunan itu tanpa memberimu kesempatan untuk memainkannya. Barangkali Tati memang sudah lama ingin bermain ayunan. Coba, deh, bayangin kalau Kakak sudah lama ingin main ayunan, tentunya Kakak enggak cukup puas kalau mainnya sebentar, kan?" "Jadi, anak senantiasa dilatih untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dan berempati pada perasaan orang lain agar tidak menjadi egois.anak pun akan makin mengerti, mengapa orang lain melakukan tindakan berbeda dengannya. Sehingga, betapapun juga ia tidak setuju dengan tindakan orang lain, dia akan berusaha berpikir seperti cara orang tersebut berpikir. Dengan begitu, konflik yang keras dapat dihindari.

Ajarkan anak untuk luwes dan fleksibel
Yang tidak kalah penting ialah mengajarkan keluwesan dalam menghadapi persoalan. Misalnya, ia tak mau membereskan mainannya setelah selesai bermain, "jangan lantas memberinya ultimatum, tapi berilah alternatif waktu untuk memilih waktu yang tepat dalam membereskannya, 'Bagaimana kalau sehabis menonton film kartun kamu membereskannya?'" Jadi, ada fleksibelitas dalam menangani sesuatu. Dengan selalu mengajarkan keluwesan atau fleksibelitas, anak tidak akan mudah meledak marah kala temannya tidak mentaati aturan main yang telah mereka buat. Bukankah ia sudah terbiasa dengan ajaran, selalu ada jalan keluar lain manakala ada kesepakatan yang meleset?

Beri konsekuensi
Tentu kita juga perlu bertindak tegas terhadap perbuatannya yang salah saat meluapkan amarahnya. Misalnya, ia suka memukul. Nah, jelaskan padanya bahwa ia mesti menghilangkan kebiasaan buruknya memukul teman atau adiknya. Jika masih terulang lagi, maka ada konsekuensinya. Misalnya, tak boleh menonton film kartun kegemarannya di TV, tak boleh makan es krim selama seminggu, dan sebagainya.

selamat mencoba semoga bermanfaat
baca selengkapnya...

Mengenal DISLEKSIA ( DYSLEXIA )

Herlita Jayadianti koord Divisi Media kampanye ECCD-RC Jogja

Disleksia BUKAN PENYAKIT , tetapi merupakan salah satu gangguan dalam pembelajaran yang biasanya dialami oleh anak-anak ( bisa dideteksi saat usia 3 tahun ) . umumnya, masalah pembelajaran yang dihadapi adalah seperti membaca, menulis, mengeja, dan menganalisa. Oleh karena itu dyslexia biasanya mengarah pada mereka yang menghadapi masalah untuk membaca dan menulis walaupun mempunyai daya pemikiran yang normal ( untuk mengetahui apakah orang tersebut disleksia atau tidak harus melalui tes IQ terlebih dahulu. Dan IQ harus diatas 70). Maka mereka yang mengalami Disleksia dapat dipastikan adalah orang yang tidak mengalami kecacatan, gangguan pendengaran atau penglihatan dan kebodohan, malah sebagian dari mereka adalah orang-orang dengan intelektual yang tinggi.

Kenapa harus ada tes ?
1. karena orang yang sulit membaca karena hambatan visual dan auditory ( bukan karena gangguan otak ) hanya butuh kacamata tidak perlu terapi disleksia.
2. anak-anak yang sulit membaca karena trauma, pernah mengalami pelecehan seksual, cemas berlebih ( bukan karena gangguan otak ) butuh penanganan terapi psikis bukan disleksia.
3. masyarakat miskin yang tidak bisa membaca karena fasilitas juga tidak bisa diterapi disleksia.

Penyebab Disleksia
Disleksia terjadi akibat kerja otak yang berbeda daripada keadaan yang normal. perbedaan ini bisa disebabkan oleh kecacatan pada otak saat pembentukan didalam kandungan.

Ciri-ciri disleksia
1. Lambat bicara jika dibandingkan kebanyakan anak seusianya dan tidak dapat mengucapkan kata-kata secara benar.
2. Lambat mengenali alfabet, angka, hari, minggu, bulan, warna, bentuk dan informasi mendasar lainnya. Serta sulit dalam mengurutkan huruf-huruf dalam kata.
3. Sulit menyuarakan fonem (satuan bunyi) dan memadukannya menjadi sebuah kata.
4. Sulit mengeja secara benar. Bahkan mungkin anak akan mengeja satu kata dengan bermacam ucapan.
5. Sulit mengeja kata atau suku kata dengan benar. Anak bingung menghadapi huruf yang mempunyai kemiripan bentuk seperti b – d, u – n, m – n.
6. Membaca satu kata dengan benar di satu halaman, tapi salah di halaman lainnya.
7. Kesulitan dalam memahami apa yang dibaca.
8. Sering terbalik dalam menuliskan atau mengucapkan kata. Misalnya kata ”gajah” ducapkan menjadi ”gagah”, "pelajaran" dibaca "perjalanan".
9. Rancu dengan kata-kata yang singkat, misalnya ke, dari, dan, jadi.
10. Bingung menentukan tangan mana yang dipakai untuk menulis.
11. Lupa mencantunkan huruf besar, serta lupa meletakkan tanda-tanda baca lainnya, seperti titik atau koma.
12. Menulis huruf dan angka dengan hasil yang kurang baik/ tulisannya jelek sekali.
13. Terdapat jarak pada huruf-huruf dalam rangkaian kata. Tulisannya tidak stabil, kadang naik, kadang turun.
14. Punya kebiasaan membaca terlalu cepat hingga salah mengucapkan kata atau bahkan terlalu lambat dan terputus-putus.
15. Rancu dalam memahami konsep kiri¬kanan, atas-bawah, utara-selatan, timur-barat.
16. Memegang alat tulis terlalu kuat/keras
17. Rancu atau bingung dengan simbol-simbol matematis. Misalnya tanda +, -, x, :, dan sebagainya.
18. Sulit mengikuti lebih dari sebuah instruksi dalam satu waktu yang sama.
Penanganan
Apabila orangtua dan guru mulai mencurigai bahwa anak mengidap disleksia, hendaknya segera berkonsultasi dengan psikolog atau klinik/ sekolah pengajaran khusus (special education) untuk mendapatkan informasi mengenai cara penangan yang tepat. Karena bukan penyakit maka disleksia tidak boleh diobati. Disleksia hanya boleh ditangani oleh psikologi atau terapis disleksia. Pengidap disleksia umunya akan diberi terapi untuk meningkatkan kemahiran linguistik, berfikir, dan sosial.

Informasi Lain Terkait Disleksia
1. anak-anak dari keluarga bilingual sangat mungkin mengidap disleksia.
2. disleksia banyak ditemui pada anak-anak dari negara yang bahasanya ( antara penulisan dan pengucapan beda ) seperti prancis, jerman, amerika, inggris.
3. kasus disleksia banyak terjadi juga di negara-negara Afrika yang bahasa tidak ditulis dan tidak ada hurufnya. ( umunya disuku pedalaman afrika bahasa hanya diucapkan seperti mantra ).
4. pada orang disleksia ada fokus yang berganda/menyebar sehingga tulisan bisa bertumpuk dua atau bahkan 3. untuk mengtasainya bisa dibantu dengan kaca mata prisma ( dibuat oleh dokter mata ). Kacamata ini jika dipakai dalam jangka panjang bisa berbahaya maka hanya boleh dipakai saat membaca saja. Dan pada pemakaiannya harus diobservasi dan jika tidak berdampak baik jangan diteruskan.
5. orang dengan disleksia tidak akan bisa menulis dengan penuh dan benar. misalnya : disleksi: Disleki, assesment: asseamend, intervention: interwenschen
6. Di Cina hampir tidak ada kasus disleksia ( tidak ada beda antara yang disleksia dan tidak ) kenapa bisa terjadi..?karena di cina orang terbiasa mendengarkan pembicaraan orang lain sampai selesai. Yang dipahami kalimat perkalimat ( kalau kita kata perkata ). Sehingga disana working memorinya kuat.
*Dari berbagai sumber
baca selengkapnya...

Powered By Blogger
Template by layout4all