Tampilkan postingan dengan label Artikel / Tips 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel / Tips 1. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Februari 2010

Periksa Komposisi Makana, Lindungi Anak Dari Makanan Tak Sehat

Demitria Budiningrum / Dimuat di Harian Jogja

’Mama, aku mau itu....mama, aku mau itu.....’, kata seorang anak umur 3 tahun sambil menunjuk sebungkus makanan ringan. Sang Mama mengambil 2 bungkus makanan ringan itu. ’Mama, aku mau itu...mama, aku mau itu,’ seru anak itu lagi sambil menunjuk minuman sari buah. Sang Mama mengambilkan 3 kotak minuman sari buah yang ditunjuk si anak.

Apakah kejadian tersebut pernah, bahkan kerap terjadi pada Bapak dan Ibu? Boleh jadi, ya. Lantas, apa yang salah dari kejadian itu? Kejadian membelikan anak makanan dan minuman yang disukai anak tentu bukan hal yang salah. Yang menarik di sini adalah, seringkali orangtua membelikan makanan dan minuman bagi anak tanpa mencermati komposisi atau kandungan makanan dan minuman kemasan tersebut.
Wah, memangnya penting ya mencermati komposisi makanan kemasan sebelum dibeli?
Tentu saja penting. Pertama, kita menjadi tahu apa saja bahan-bahan yang termuat dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi anak. Terutama, mengenai bahan-bahan yang aman atau tidak jika dikonsumsi anak. Kedua, dengan memastikan bahwa makanan dan minuman yang dikonsumsi anak sudah aman, itu berarti kita telah melindungi anak dari makanan yang tidak sehat. Ketiga, dengan mengajak anak ikut serta mencermati komposisi makanan dan minumannya sendiri, anak lama-kelamaan memiliki kebiasaan untuk memilih makanan dan minuman sehat sendiri. ini berarti, akhirnya memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri.
Apa saja bahan makanan yang perlu kita cermati? Pada umumnya, kita dapat mencermati bahan-bahan yang mengandung pewarna, pemanis, pengawet, penguat rasa (Mono Sodium Glutamate (MSG) atau Mono Natrium Glutamate (MNG)), penguat aroma. Yang perlu diwaspadai adalah jika kandungan bahan-bahan tersebut terlalu banyak jumlahnya.
Ada beberapa hal yang dapat orangtua lakukan untuk membiasakan kebiasaan mencermati komposisi makanan ini.
- diskusikan alasan bahan-bahan tertentu tidak baik jika dikonsumsi. Tentu saja orangtua perlu mencari tahu bahan-bahan mana yang ramah jika dikonsumsi dan mana yang tidak.
- Buat kesepakatan bersama anak aturan mengkonsumsi makanan dan minuman. Misal: hanya boleh membeli makanan/ minuman yang mengandung maksimal 2 pewarna, tidak mengkonsumsi makanan ber-MSG, dsb.
- Ajak anak melihat komposisi makanan/ minuman bersama. Meskipun anak belum bisa membaca, biasakan kebiasaan ini.
- Beri contoh dengan tidak mengkonsumsi makanan yang tidak boleh dimakan anak.

Cara yang disampaikan di sini hanya merupakan salah satu cara untuk melindungi anak dari makanan dan minuman yang tidak sehat. Tentu saja orangtua dapat melakukan cara-cara lain untuk melindungi putra putrinya. Mari kita bangun kebiasaan mengkonsumsi makanan dan minuman sehat untuk melindungi anak-anak kita.
baca selengkapnya...

Memaknai Lebaran Bersama Anak

Hasanah Safriyani, Psi / Dimuat di Harian Jogja

Baju baru Alhamdulillah..
Tuk dipakai di hari raya
Tak punya pun tak apa-apa
Masih ada baju yang lama

Lagu anak-anak di atas, rasanya masih relevan dengan kondisi saat ini. Mungkin juga akan tetap relevan di tahun-tahun mendatang, karena (terutama untuk anak) lebaran seringkali identik dengan baju baru, sepatu baru, semuanya serba baru. Akibatnya kalau di tengah Ramadhan orang tua tidak menunjukkan gejala akan membelikan baju lebaran, anak-anak bisa ngambek. Sebetulnya masih banyak hal yang lebih penting dalam memaknai lebaran, yang perlu kita kenalkan kepada anak. Event lebaran bisa dimanfaatkan untuk mengajak anak mempraktekkan nilai-nilai positif dalam hidupnya, antara lain;

Hati yang baru
Jelaskan kepada anak bahwa lebaran adalah hari kemenangan setelah sebulan menahan hawa nafsu, artinya kebaikan yang dipupuk di bulan Ramadhan harus terus dipertahankan. Anak bisa diajak mengenali kebaikan apa yang ia upayakan di bulan ramadhan tahun ini misalnya berusaha tidak mencela makanan, bersedekah, sholat dll. Nah, kebaikan itu perlu terus dilakukan, dimana lebaran adalah awal ia melakukan hal tersebut meskipun tidak di bulan puasa. Pilih kebaikan yang kira-kira memang bisa dipertahankan anak, agar realistis dan tidak membebani. Jadi bukan bajunya yang harus baru, tapi hatinya.

Kesederhanaan
Jika kita bermewah-mewah atau berlebihan dalam menyambut lebaran, anak akan belajar bahwa lebaran identik dengan hura-hura. Sebaliknya, jika orang tua mensikapi lebaran dengan cara yang sederhana anak pun akan menirunya. Membeli baju baru memang tidak salah, tapi tidak perlu dipaksakan dan dijadikan tradisi tahunan. Bukankah yang dianjurkan adalah memilih busana yang terbaik untuk berhari raya, busana terbaik yang kita miliki lho, bukan busana terbaik yang ada di toko.

Berbagi
Anak bisa diajak berbagi kegembiraan dengan teman-teman yang kurang beruntung. Dengan berbagi anak belajar mensyukuri segala yang ia miliki. Anak bisa dilibatkan dalam menentukan apa yang bisa ia berikan kepada teman-teman yang kurang beruntung tersebut.

Keterlibatan dalam keluarga
Anak adalah anggota penting dalam keluarga, maka persiapan lebaran seyogyanya tidak hanya menjadi monopoli orang tua saja. Anak bisa dilibatkan mulai dari menentukan kue kering yang akan dibuat, penataan ruangan, dsb. Tentu setelah dilibatkan dalam diskusi anak juga bisa diberi kesempatan untuk ikut membantu dalam prosesnya. Keterlibatannya dalam proses menyambut hari raya akan membuat anak merasa berguna, yang akan meningkatkan rasa percaya diri anak.

Silaturahmi
Mengajak anak untuk ikut serta dalam agenda penting lebaran ini, akan memberinya kesempatan belajar bersosialisasi, etika, dsb. Perlu diupayakan agar anak tetap merasa nyaman dalam mengikuti silaturahmi, misalnya hindari menghardik anak di depan orang asing, beri anak kesempatan untuk sesekali terlibat dalam pembicaraan, kenalkan anak kepada keluarga atau kerabat yang kita temui, dsb.

Mengelola keuangan
Biasanya di hari lebaran akan akan panen “angpaw” dari orang dewasa yang ditemui. Karena yang diberi adalah anak, maka kita perlu menghargai bahwa itu adalah ”harta” anak kita. Jadi biarkan ia menyimpannya, dan setelah itu kita bisa mengajak anak berdiskusi tentang pemanfaatan uang tersebut. Diupayakan agar uang tersebut tidak langsung habis untuk jajan, tapi ditabung sehingga bisa untuk membeli keperluan yang lebih besar untuk anak. Atau disedekahkan,jika anak memang menghendakinya.

Kreativitas
Hari raya bisa menjadi waktu yang baik untuk mengasah kreativitas. Misalnya anak diajak menata parcel, membuat kartu lebaran, menghias kue, dsb.

Lebaran memang hari yang menggembirakan bagi semua, baik orang dewasa maupun anak-anak. Hati yang bersih dan niat yang mulia, akan memudahkan kita dalam mengenalkan makna positif lebaran kepada anak-anak. Selamat berlebaran, bagi anda yang merayakannya.
baca selengkapnya...

Kenapa Merebut Sih ?

Murni Setiyasih / Dimuat di Harian Jogja

Anak berebut mainan memang hal yang wajar, lumrah, dan terjadi dimana-mana. Kenapa? Karena anak 2-4 tahun masih belum memahami konsep kepemilikan, ini milikku, itu milikmu. Sifat egosentris mereka sedang berkemang. Semua milikku. Ditambah lagi, anak berpikir secara konkreit, belum bisa memikirkan sesuatu yang sifatnya abstrak. Sehingga bagi mereka, merebut bukanlah sesuatu hal yang salah atua perbuatan tidak baik. Meski bisa dibilang wajar, bukan berarti kita sebagai orang tua kemudian membiarkan begitu saja. Anak harus tahu bahwa merebut bukan perbuatan yang baik.

PENYEBAB
Selain hal diatas, beberpa hal di bawah ini juga menjadi penyebab munculnya perilaku merebut anak.
1.belum tahu aturan
anak belum tahu cara meminjam, atau cara meminta ijin pada pemiliknya
2.meniru
meniru atau modelling merupakan hal yang paling sering dilakukan anak. Bisa jadi di rumah anak biasa melihat ada anggota keluarga yang sering berebut remote kontrol agar bisa melihat tayangan favorit masing-masing. Memakai barang yang bukan miliknya tanpa meminta ijin pada pemiliknya, dan pemiliknya juga diam saja meski tahu. Nah, anak melihat semua ini kemudian berpikir “teryata boleh kok memakai barang orang lain tanpa ijin, papa diam kok saat mama pakai handphone papa tanpa bilang”.
3.minta perhatian
semua anak anak pada dasarnya ingin diperhatikan. Namun, tak jarang perhatian yang diberikan orang tua bukan pada perilaku positif mereka. Ketika anak berbuat baik, orang tua diam saja, “memang seharusnya begitu”. Giliran anak berbuat salah atau melakukan perbuatan tidak baik, merebut mainan teman, orang tua memberi respon secara berlebihan. Memberi nasehat panjang lebar, memarahi, hingga memberinya hukuman. Akhirnya anak berpikir, “Oo… gitu ya caranya biar diperhatikan mama. Kalau gitu aku, akan merebut mainan adik lagi.”

PENANGANAN
1.biasakan selalu meminta ijin
Beri pengertian pada anak, jika dia ingin meminjam, maka harus minta ijin dulu pada yang punya. Kita bisa memberi tahu caranya dengan mengatakan “boleh pinjam?”
2.kenalkan konsep kepemilikan
ajari anak untuk mengenali barang atau mainan miliknya juga milik orang lain dengan mengenali tanda-tanda yang ada pada barang tersebut. Misalnya, “ tas biru ini punya Bunda. Nah, kalau punya Dea tas kuning bergambar beruang”.
3.dorong untuk berempati
“Ade senang nggak, kalau mainannya direbut teman? Nggak senang ya? Begitu juga dengan teman Ade. Bimo juga nggak senang seperti Ade saat mainannya Ade rebut”. Mengajaknya berpikir seperti itu akan lebih mudah diterima anak.
4.jelaskan akibat perilaku suka merebut
beritahu anak apa akibatnya jika ia masih sering merebut mainan teman. Misalnya, dijauhi teman.
5.hindari memberikan label negatif
pemberian label negatif justru akan memberi penguatan pada anak tentang konsep diri yang negatif. Anak memandang dirinya selalu negatif, dan itu akan mempengaruhi tindakannya juga. “kata mama, aku anak nakal. Kalau aku berbuat baik mama nggak percaya. Ya, sudah aku jadi anak nakal aja seperti kata mama”
6.konsekuensi
bicarakan dengan anak anak tentang konsekuensi jika ia masih sering merebut mainan teman. Misalnya, jika masih merebut maian teman, tidak boleh main sepeda selama satu hari. Konsekuensi dipilih dari kegemaran anak, selain tidak menyakiti perasaan dan juga fisiknya, anak akan lebih merasakan efeknya.
7.konsisten
jika diputuskan tidak boleh main sepeda selama sehari, meskipun anak menangis meraung-raung, orang tua harus konsisten menjalankan aturan yang sudah disepakati bersama
baca selengkapnya...

Berawal Dari Keterbukaan, Ajari Anak Menjaga Diri

Ardhian Heveanthara / Dimuat di Harian Jogja

Orangtua tentu tidak akan setiap waktu berada di dekat anaknya dan mengawasinya terus menerus, apalagi jika anak sudah memiliki banyak teman dan mulai berani bermain jauh dari rumah. Pada fase inilah mau tidak mau orangtua harus mempertaruhkan tanggung jawab perlidungan anaknya kepada diri anak itu sendiri. Permasalahnnya adalah tidak semua anak bisa bertanggung jawab penuh terhadap keselamatannya.

Anak yang kurang terbuka dalam berkomunikasi dengan orangtua memiliki resiko keselamatan yang lebih besar dan kemampuan menjaga diri yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang terbiasa menceritakan berbagai kegiatannya kepada orang tuanya. Contohnya ketika anak diajak teman-temannya bermain di sungai, memanjat pohon, bermain petasan, melihat film atau internet, maupun kegiatan-kegiatan beresiko lainnya, setelah melakukan itu hampir bisa dipastikan kebanyakan anak akan merahasiakan apa yang telah dilakukannya karena takut langsung dimarahi dan kekhawatiran bahwa dia akan dilarang bermain lagi bersama teman-temannya. Inilah yang menjadikan keselamatan anak terancam karena orangtua jadi tidak tahu apa yang telah dilakukan anaknya sepanjang hari, akibatnya orangtua tidak bisa memberikan masukan-masukan atau antisipasi dan tindakan pencegahan.

Untuk memulai keterbukaan pada anak sebagai orang tua harus memulai dari diri sendiri terlebih dahulu dengan membiasakan beberapa hal mendasar berikut;
- Hargai pendapat anak, sekalipun pendapatnya salah tetapi yang penting terima saja dan hargai dulu, baru perlahan-lahan diluruskan. Jangan sampai anak kehilangan kepercayaan diri dan jadi minder ketika ingin mengungkapkan pendapatnya.
- Menjadi pendengar yang baik, ini adalah rangkaian dari sikap menghargai pendapat anak diatas, sebagai pendengar yang baik harus mampu memberikan respon yang tepat dan sesuai dengan apa yang sedang diceritakan anak, meskipun menurut kita itu biasa-biasa saja tapi berikan respon yang memuaskan. Dengan begitu anak akan semakin merasa dihargai dan merasa nyaman bercerita apa saja kepada orangtuanya.
- Berbicara kepada anak secara dewasa, jangan selalu berkomunikasi dengan anak dengan nada memanjakan atau memposisikan anak sebagai anak kecil terus menerus, ada kalanya ajak anak berbicara sebagaimana kita bertukar pikiran dengan orang dewasa, diskusikan berbagai hal yang dialaminya, mengenai sekolahnya atau kegiatan favoritnya. Pada anak yang sudah memasuki usia Sekolah Dasar cenderung lebih senang diperlakukan seperti ini.
- Berikan rasa aman dan nyaman selama mereka berada di dekat orangtua. Biasakan anak mengkomunikasikan perasaannya, jangan sampai anak terbiasa menyimpan dan memendam perasaan.

Tahap selanjutnya, apabila anak telah mudah terbuka dan merasa nyaman bercerita apa saja, maka akan sangat mudah bagi orangtua mengajarakan dan melatih dia memproteksi diri. Apabila yang diceritakannya adalah aktivitas berbahaya dan beresiko tinggi jangan langsung tiba-tiba memarahi dan melarangnya, tetapi perlahan-lahan beri pengertian sambil mengenalkan pengetahuan baru serta resiko yang bisa terjadi berikut tindakan preventifnya. Misalnya, jika dia bercerita habis main di sungai maka orangtua bisa memberi masukan dan melatih anak menjaga diri seperti waspada berada di dekat lubang karena mungkin itu adalah sarang ular, hati-hati dengan air yang tenang karena itu berarti airnya dalam, jangan menginjak batu berlumut karena bisa terpeleset dan lain-lain, atau ketika dia bercerita habis diajak teman-temanya bermain petasan, ajak anak berdiskusi mengenai bahaya petasan, usahakan orang tua hanya memancing dan mengarahkan pembicaraan saja, lalu biarkan agar anak sendirilah yang mengungkapkan bahaya perbuatannya baik untuk dirinya maupun orang lain.

Demikian pula pada aktivitas-aktivitas berbahaya yang lain, yang perlu diperhatikan adalah upaya bertahap dengan sabar dan mampu menahan diri, jangan langsung menghakimi, menyalahkan dan melarang keras tanpa didahului dialog dan diskusi serius tapi santai dengan anak mengenai resiko perbuatannya, karena jika langsung asal melarang saja sambil memarahinya kecenderungannya adalah anak malah akan semakin penasaran dan ingin mencoba lagi.

Namun demikian memproteksi dan melindungi anak bukan berarti membatasi hak dan naluri mencoba dari seorang anak lalu sepenuhnya menjauhkannya dari berbagai kegiatan dan aktivitas yang beresiko, karena bagaimanapun anak tetap harus mengenal dan punya pengalaman dalam berbagai macam aktivitas sebagai latihan pengembangan dirinya, yang penting aktivitas itu harus sesuai dengan usia dan perkembangan fisiknya serta tetap terkontrol.
baca selengkapnya...

Kenapa Anak Suka Mengadu

Herlita Jayadiyanti

Beberapa hal yang melatar belakangi anak menjadi pengadu, antara lain.
1. Mencontoh
Boleh jadi si kecil tumbuh jadi anak pengadu lantaran orang-orang terdekatnya memang berperilaku seperti itu. Coba, deh, selidiki, adakah anggota keluarga yang hobi mengadu? Jangan-jangan malah kita sendiri yang sebentar-sebentar bilang, "Nanti Mama bilangin ke Papa, lo! Biar dijewer sama Papa kalau makannya enggak dihabisin." atau "Nanti Ayah bilangin Bunda, ya, kalau kamu gangguin Ayah terus. Biar nanti disetrap sama Bunda."
Ingat, lo, Bu-Pak, modelling atau peniruan masih cukup dominan di usia ini. Selain, omongan semacam itu cuma membikin si kecil meragukan kemampuan kita menyelesaikan masalah. Soalnya, yang tertangkap di benak si Upik atau si Buyung, kan, memang ketidakmampuan kita. Ia akan berpikir, "Kok, ayahku payah banget, sih, sebentar-sebentar ngadu ke Bunda."

2. Terlalu dimanja
Ini salah satu kesalahan kita sebagai orang tua: tak tega pada anak. Hingga, tanpa sadar kita cenderung memberlakukan kebiasaan-kebiasaan yang membuat si kecil jadi tak mandiri. Misal, selalu menyuapi makan, memandikan, memakaikan baju, menolong mengambilkan ini-itu, dan sebagainya. Bahkan, tak jarang kita biarkan si kecil terlayani semua kebutuhannya hanya cukup dengan berteriak, "Mbak!" memanggil pembantu atau pengasuhnya. Hingga, untuk tugas-tugas sederhana pun semisal mengambil minum dan membuka sepatu, si kecil akan memanggil pembantu/pengasuhnya.
Hati-hati, lo, Bu-Pak, kebiasaan ini bukan hanya berlangsung di rumah, tapi juga akan berlanjut ke "sekolah"; sebentar-sebentar ia memanggil gurunya untuk minta bantuan. Yang lebih parah, bisa menumbuhkan perilaku bossy, terutama dalam pergaulan dengan teman-temannya. Jika sudah begitu, ia bisa dijauhi lingkungan sosialnya.
Bukan berarti si kecil tak boleh dibantu, lo. Hanya saja, dalam batas-batas tertentu, ia harus mulai dilepas. Paling tidak, untuk tugas-tugas sederhana yang berkaitan dengan dirinya sendiri seperti makan, mandi, buka-pakai baju, dan lainnya. Dengan begitu, kemandiriannya perlahan-lahan tumbuh. Jangan lupa, di usia ini anak diharapkan bisa menyelesaikan segala persoalannya sesuai kemampuannya. Kita memang harus sedikit tega pada si kecil, ya, Bu-Pak.

3. Cari Perhatian
Bukan tak mungkin si kecil terbiasa mengadu hanya karena ia membayangkan nikmatnya mendapat perhatian dari guru atau orang tua. "Aku juga mau, ah," begitu pikirnya setiap kali ada temannya mengadu dan guru menanggapi atau adik/kakaknya mengadu dan ayah/ibu menanggapi. Padahal, mengadu yang sering merupakan bentuk pelarian dari ketakmampuan menyelesaikan masalah, bila tak direm, akan berdampak fatal. Anak terbentuk jadi pribadi yang terbiasa cari selamat sendiri, atau bahkan tega "mengorbankan" teman/adik/kakak, misal.
Terlebih bila guru/orang tua tak cermat, hingga mudah termakan pengaduan anak, "Bu, si A mukul," padahal sebetulnya tidak. Bila tak jeli melihat situasi, guru/orang tua pun akan salah menilai anak yang mengadu tadi. Sementara anak akan berpikir ia bisa memanfaatkan orang lain hanya dengan mengadu. Celaka, kan, Bu-Pak? Nah, untuk mencegah hal-hal seperti ini, kita memang perlu bersikap bijak dalam arti, kapan harus menanggapi pengaduan anak dan kapan pula perlu bersikap cuek.

4. Butuh Perlindungan
Dalam banyak hal, dengan segala keterbatasannya, anak memang sering merasa tak berdaya. Nah, dalam keadaan tak berdaya inilah, si kecil merasa perlu lari pada orang tua atau gurunya. Dengan kata lain, ia meminta kita atau gurunya menjadi perpanjangan tangannya dalam menyelesaikan masalah. Soalnya, di kelas siapa lagi, sih, yang pantas dianggap sebagai tokoh yang mampu melindungi selain guru? Sementara di rumah, cuma ayah-ibunya, kan?
Tentu hal ini tak boleh dibiarkan. Jangan lupa, anak terus tumbuh dan berkembang. Selama di TK, tuntutan semacam ini mungkin tak menimbulkan masalah buat guru. Namun setelah duduk di SD ketika guru-gurunya sudah tak seramah seperti di TK dan lingkungan sosialisasinya semakin "liar" sementara orang tua pun tak setiap saat bisa menolongnya, maka anak-anak yang terbiasa kelewat dilindungi jadi enggak percaya diri. Kebiasaan mengadu mengundang anak jadi pribadi cengeng yang selalu bergantung pada orang lain, padahal dunia butuh orang-orang yang tough alias tahan banting.

5. Kurang Pergaulan
Anak-anak yang kemampuan bergaulnya dengan teman sebaya kurang diasah, akan tumbuh menjadi anak yang tak bisa menyelesaikan konflik. Anak-anak seperti ini, besar kemungkinan punya ikatan begitu kuat dengan
sosok ibu di rumah. Hingga, ketika di "sekolah" pun, ia cenderung lebih akrab dengan guru ketimbang teman-temannya. Tak heran bila anak tipe kurang populer ini akhirnya lebih sering jadi tukang mengadu.

Penting diketahui, semasa usia prasekolah, anak harus makin intens berkenalan dengan dunia di luar rumah. Namun hal ini hanya bisa dilakukan bila anak punya keberanian untuk berinteraksi maupun mengucapkan sapaan tertentu yang merupakan bagian dari pergaulan, semisal mengucap salam atau terima kasih, minta tolong, dan lainnya. Dengan demikian, anak akan mampu mengungkapkan perasaannya secara positif. Nah, buat anak kuper alias kurang pergaulan, ini bukan perkara gampang, lo. Hingga, yang paling mudah dilakukannya cuma mengadu, entah kepada guru saat di "sekolah" atau orang tua saat di rumah.
Itulah mengapa, kita harus memberi kesempatan pada anak untuk bergaul seluas-luasnya. Tentu secara bertahap, sesuai perkembangan sosialisasinya seiring usia bertambah. Termasuk mengajarkan berbicara agar kemampuan bahasanya makin berkembang, etika pergaulan seperti sopan santun, belajar berbagi, serta belajar memilih dan memutuskan sendiri.

Apa yang bisa dilakukan orangtua agar anak tidak jadi “pengadu”?
1.Jangan buru-buru melayani aduannya karena itu dapat menyebabkan anak semakin bersemangat untuk mengadukan kelakuan orang lain.
2.Yakinkan anak bahwa dia dapat menyelesaikan sendiri tanpa harus mengadu pada ibunya.
3.Ajarkan untuk asertif
4.Observasi
Itu sebab, Indri minta, baik guru maupun orang tua agar mengobservasi dulu, apakah hal yang diadukan anak memang benar-benar berbahaya. Tentu sebagai orang tua, kita harus jujur, ya, Bu-Pak. Dalam arti, kalau memang bukan hal yang membahayakan, kita pun harus mengakuinya. Kalau tidak, yang terkena dampaknya juga si kecil. Ingat, lo, ia bisa tumbuh jadi orang yang enggak tahan banting jika selalu dilindungi.
Jadi, bila si kecil mengadu pada kita dan kita menganggap pengaduannya lebih pada usahanya untuk menarik perhatian, misal, amat tak bijak bila kita menerima pengaduannya begitu saja. Sebaiknya, saran Indri, libatkan orang lain yang bisa memberi masukan atau mengkonfirmasikan kebenaran pengaduan anak, misal pembantu/pengasuhnya. "Semacam 'interogasi', tapi lakukan secara halus dan tak di depan anak." Dengan begitu, kita jadi bisa tahu apakah pengaduan si kecil merupakan salah satu bentuk cari perhatian, atau memang perlu ditindaklanjuti.
Namun bila si kecil mengadunya pada guru dan guru menilai pengaduannya bukan yang membahayakan, terlebih bila pengaduan serupa kerap dilakukan anak, maka guru perlu mengkomunikasikannya dengan orang tua. Misal, "Di rumah biasanya diapain, ya, Bu, kalau si kecil sering mengadu?" Dari sini bisa terlihat bagaimana pola kebiasaan anak di rumah. Namun ingat, lo, Bu-Pak, kita tak boleh marah pada guru si kecil karena biasanya, kan, orang tua enggak mau anaknya disalahkan. Jangan pula kita menutup diri dari guru hingga tak memberi tahu hal yang sebenarnya terjadi di rumah. Soalnya, dengan kita menutup diri, guru jadi sulit untuk menemukan solusi yang tepat buat mengatasi masalah ini (termasuk masalah-masalah lain yang dihadapi anak di "sekolah").
Nah, kini kita jadi makin paham akan perilaku si kecil, ya, Bu-Pak. Satu hal yang penting, kita pun perlu menjalin kerja sama yang baik dengan guru untuk mengatasi masalah yang dihadapi si kecil.
5.Beri teguran
Padahal, lebih efektif hasilnya bila kita langsung menegur si kecil. Misal, "Enggak boleh begitu, dong, Sayang. Kamu harus makan. Kalau enggak makan, nanti bisa sakit, lo." atau "Nak, Ayah harus menyelesaikan pekerjaan ini. Bila kamu terus mengganggu Ayah, kan, Ayah jadi enggak bisa bekerja. Gimana kalau kamu menggambar dulu di meja kecil itu sementara Ayah menyelesaikan pekerjaan. Kalau Ayah sudah selesai, baru kita main bersama."
baca selengkapnya...

Membantu Anak Mengenal Emosi

Hasanah Safriyani, Psi

Aku marah!” seru Aldi (4 th)sambil membanting pintu. Orang tuanya tentu tidak senang dengan perilaku Aldi membanting pintu. Setidaknya, ortu Aldi bisa sedikit lega karena Aldi bisa mengemukakan dengan kata-kata: Aku marah!. Sebagian anak tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata, tapi dilampiaskan dengan berteriak, menangis, merusak barang atau menarik diri.

Apa itu emosi?
Emosi lebih sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang negative. Sebetulnya tidak, karena ada 3 emosi dasar yang dimiliki manusia yaitu senang, marah dan takut..

Gejolak emosi
Emosi yang muncul pada anak, seringkali menggelegak dan ditampakkan secara “berlebihan” (misalnya, minta permen saja sampai tantrum) hal ini dikarenakan kemampuan anak untuk mengontrol emosi belum sebaik orang dewasa. Demikian juga dengan kemampuan menyampaikan perasaan dalam bentuk verbal. Emosi yang berlebihan bisa disebabkan kondisi fisik (masalah pencernaan, lapar, ngantuk) maupun psikis (takut, merasa tidak dihargai, tidak PD, tertekan, frustasi, kecerdasan). Gejolak emosi lebih berpotensi muncul pada anak yang dididik dengan pola asuh terlalu keras, terlalu manja maupun terabaikan. Dayli rushing atau kepanikan harian (biasanya terjadi di pagi hari dimana semua orang di rumah harus bergegas menuju tempat aktivitas masing-masing) , kurangnya rasa sayang dan minimnya interaksi juga memicu hal ini.

Apa yang bisa dilakukan orang tua?

1. Menyadari emosi anak. Terima apa yang dirasakan anak, tidak perlu menyangkalnya. Setiap emosi negatif diberi nama, dimengerti, dihadapi bersama dan dimaknai. Misalnya ”Kamu marah ya..” ”Kamu kecewa?”
2. Mendengarkan dengan empati dan meneguhkan perasaan anak. Sekecil apapun masalahnya, yang dialami anak adalah nyata. Anak perlu didengarkan dan diberi kesempatan untuk menjelaskan apa yang ia rasakan lalu kita teguhkan hatinya. ”Jadi kamu sedih ya.. nggak dapat hadiah. Tapi yang penting kamu kan sudah berusaha... bikin lagi aja yuk!”
3. Menentukan batas perilaku dan membantu pemecahan masalah. Anak perlu memahami bahwa yang salah bukanlah apa yang dirasakannya tapi apa yang dilakukannya. Misalnya ”Aldi boleh marah, tapi tidak perlu membanting pintu” ada penjelasan, solusi dan konsekuensi yang disepakati dan dilakukan secara konsisten
4. Memberikan contoh. Anak boleh melihat orangtuanya juga mengalami emosi dan berusaha mengatasinya
5. Menggunakan kalimat positif. Hindari larangan, ancaman, celaan.

Demikian beberapa tips yang bisa dilakukan. Semakin dini dilakukan semakin baik, tapi tidak ada kata terlambat untuk mencoba.
-
Kecil-kecil Suka Memerintah

Herlita Jayadiyanti

Dilayani, wah siapa yang tidak mau jangankan anak orang dewasapun pasti suka. Enak kok tidak usah bersusah payah, apa yang kita inginkan sudah tersedia, iya kan ? kalau sekali dua kali sih boleh-boleh saja, tapi kalau sudah jadi kebiasaan, wah pasti merepotkan. Yuk kita bahas sama-sama mengenai sikap Bossy pada anak.

Kenapa anak bersikap bossy atau suka memerintah ?
Sikap bossy atau suka memerintah sebenarnya disadari atau tidak terbentuk dari lingkungan terdekat anak yaitu rumah. Bisa terjadi pada anak yang tumbuh dengan limpahan perhatian, anak yang dirumahnya sangat dimanjakan, terbiasa dilayani, apa –apa diladenin, mau makan tinggal disuapin, mandi dimandiin, mau sekolah baju dan tas sudah tersedia tinggal dipakaikan lalu berangkat deh. Pembantu, baby sitter, supir semua tersedia untuk melayani kebutuhan anak. Karena sering dilayani lama-lama jadi kebiasaan. Dan anak jadi sangat tergantung dengan orang lain dan tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Atau bahkan pada anak yang kurang perhatian sehingga cara dia mendapatkan perhatian adalah dengan berperilaku tidak baik.

Dampak sikap bossy bagi hubungan sosial anak
Karena anak dengan sikap bossy suka memerintah dan inginnya menang sendiri maka yang jelas dia jadi tidak punya teman, Kalaupun punya paling tidak banyak, hanya teman-teman yang bisa dipengaruhi saja, biasanya yang miskin dan lemah. Kalau ini dibiarkan anak bisa jadi kepala gank bahkan mengarah pada premanisme. Serem ya...

Apa yang bisa dilakukan orangtua dalam menghadapi anak Bossy ?
1. Ubah pola asuh
Kalau selama ini anak terlalu dimanjakan maka coba pelan-pelan pola asuh yang ada diubah. Lakukan secara bertahap agar anak tidak kaget. Bisa juga libatkan anak dalam diskusi mengenai dampak sikap Bossy bagi lingkungan sekitarnya. Jelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami anak.
2. Buat kesepakatan
Buat kesepakatan bersama-sama dengan Anak. apa yang harus dilakukan sendiri oleh anak dan apa yang boleh minta bantuan orang lain.Misalnya ”kalau adik habis main, adik harus membereskan mainannya sendiri”.
3. Arahkan dan beri motivasi
Ketika anak mulai memerintah misalnya : ” Bik ambilin minum”, maka segera arahkan dan yakinkan anak bahwa dia bisa melakukan sendiri. Katakan ” adik mau minum, coba ambil sendiri, Ibu yakin adik pasti bisa kok”.
3. Ajarkan anak sopan-santun
Ajarkan anak bagaimana caranya sopan-santun, misalnya cara meminta tolong dan apa yang harus diucapkan ketika selesai ditolong.
3. konsisten dan tegas
kesepakatan yang sudah dibuat bersama dengan anak harus dijalankan dengan tegas dan konsisten. Kalau aturannya harus makan sendiri maka ketika anak merengek minta disuapi orangtua jangan luluh ya. sekali kita tidak konsisten maka akan susah untuk menegakkan disiplin. Kesepakatan juga berlaku bagi siapa saja yang tinggal dilingkungan terdekat anak seperti nenek, pengasuh, kakak, om, tante dll. kalau tidak anak akan mencari pelindung yang bisa memenuhi keinginannya.
4. Sabar.
Mengarahkan anak tentu harus sabar. Apalagi anak usia dini. Tidak bisa sekali bicara langsung dilaksanakan, harus sering diingatkan.
6. Jadi contoh
Ingat loh anak usia dini suka meniru apa yang dilakukan orangtuanya. Kalau ayah sering berteriak pada Ibu ketika ingin dibuatkan kopi misalnya, anak akan belajar ”wah begitu ya caranya jika ingin sesuatu”. Kalau orangtua ingin anaknya bisa menghargai oranglain maka sebaiknya antara ayah dan Ibu saling menghargai terlebih dahulu.
7. beri reward
Reward tidak selalu berupa uang atau hadiah. Ketika anak berperilaku baik, sekecil apapun itu, jangan lupa beri penghargaan. Bisa dengan mengatakan ” wah, mama senang adik sudah bisa beresin mainan sendiri” atau dengan pelukan. Ini akan sangat besar artinya bagi anak karena merasa usahanya dihargai.
8. terapkan konsekuensi
Konsekuensi bukan hukuman tetapi akibat yang diterima anak ketika dia tidak menyepakati aturan yang sudah dibuat. Sebaiknya konsekuaensi yang akan diterima anak disepakati bersama ketika aturan dibuat. Misalnya ”adik boleh main yang lain kalau mainan sebelumnya sudah dibereskan”. Nah ketika anak tidak mau membereskan mainan maka dia sudah tahu konsekuensinyawa dia tidak boleh main mainan yang lain.
sikap bossy sebenarnya tak selamanya jelek. "Jika arahannya benar, tak tertutup kemungkinan anak bisa jadi pemimpin yang baik," Sebab, anak bossy biasanya memiliki rasa percaya diri yang baik, Inisiatifnya pun bagus, karena anak yang biasa mengatur dan memerintah menunjukkan ia memiliki inisiatif. Selamat mengarahkan putra-putri tercinta semoga kelak menjadi pemimpin yang dicintai.
baca selengkapnya...

Powered By Blogger
Template by layout4all